PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM MENULIS TEKS PROCEDURE

PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM MENULIS TEKS PROCEDURE

ABSTRAK

Drs. Widayanto, M.Pd. & Dra. Tri Hidayati Rohmah.  2010.  The Implementation of Contextual Teaching and Learning
(CTL) Approach in Writing Procedure Text. A Quasi experimental study in grade VII MTsN Wonorejo Kab. Pasuruan.
A collaborative study.

This study is intended to improve the condition of teaching learning process for English Teacher. Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

The Running Dictation Game

 

 

MENGEMBANGKAN LISTENING SKILL

MELALUI RUNNING DICTATION GAME

Oleh:

W i d a y a n t o

 

Departemen Agama

Madrasah Terpadu

Madrasah Aliyah Negeri 3 Malang

Jl. Bandung 7 Telp./Fax. (0341) 551 357 Malang

KATA PENGANTAR

 

Kita sadari bahwa Pembangunan Nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Hal ini bisa ditempuh dengan cara mewujudkan lulusan sekolah yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, Continue reading

Posted in Uncategorized | 3 Comments

PEMAHAMAN HAKEKAT TEKS REPORT PADA PENDALAMAN MATERI BAHASA INGGRIS MA

Oleh : Dr. Widayanto, M.Pd.

Abstrak

Teks report adalah suatu teks yang memberikan gambaran tentang benda sebagai makhluk hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, manusia, binatang, dan juga dapat berupa benda mati dan bukan alami. Agar supaya memiliki kemampuan mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi informational, peserta diklat yang merupakan guru Bahasa Inggris MA dituntut memiliki kemampuan memahami hakekat dan menciptakan teks esei berbentuk report. Tulisan ini mencoba menguraikan seluk beluk teks report sebagai upaya penyediaan sumber pembelajaran yang berguna untuk memahamkan peserta diklat akan hakekat teks report pada pendalaman materi pada Diklat Guru Bahasa Inggris MA.

Kata Kunci: teks report, genre.

A. Latar Belakang
Standar isi menetapkan bahwa pelajaran bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Demikian pula Mata Pelajaran Bahasa Inggris.
Salinan lampiran Permendikbud No. 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) menetapkan bahwa mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki pengetahuan factual, konseptual, procedural, dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradapan. Peserta
didik juga diharapkan memiliki kemampuan mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi informational, memiliki kesadaran tentang hakikat dan pentingnya Bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam masyarakat global dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang keterkaitan antara bahasa dengan budaya.
Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Dengan demikian peserta diklat yang merupakan guru Bahasa Inggris MA dituntut memiliki kemampuan memahami dan menciptakan teks esei berbentuk report.
Oleh karena itu sangat diperlukan bahan-bahan ajar yang terkait erat dengan pemenuhan kompetensi tersebut, sehingga diharapkan peserta diklat memiliki pengetahuan yang luas dalam rangka penyempurnaan proses pembelajaran utamanya dalam hal pendalaman materi substantif mata pelajaran Bahasa Inggris aspek listening, speaking, reading, dan writing teks esei berbentuk report.

B. Pengertian Teks Report

Teks report adalah teks yang menyajikan informasi tentang hal yang alami dan bukan alami. Lebih jelasnya, jenis teks report dapat diartikan dengan factual text which describes the way things are, with reference to a whole range of phenomena, natural, cultural, and social in our environment (Wikipedia. 2010). Berdasarkan pernyataan itu, teks report adalah teks berupa pembahasan tentang segala fenomena; baik alami, budaya, dan sosial yang ada di lingkungan kita. Teks jenis report adalah teks yang pada prinsipnya memuat penggambaran tentang suatu pokok bahasan. Hammond (1992) mengungkapkan bahwa fungsi teks jenis report adalah to provide information about natural and non-natural phenomena.
Anderson & Anderson (2003) menggunakan istilah information report untuk membahas teks report. Dengan istilah information report, mereka menyatakan bahwa teks jenis report memiliki cakupan pembahasan yang luas. Information report is a piece of text that presents information about a subject. Teks report adalah teks yang menyajikan informasi suatu pokok pembahasan.

C. Ciri-ciri Teks Report

Untuk memahami teks berjenis report, peserta diklat harus mengenali bagian-bagian dari teks itu. Bagian-bagian teks yang disebut generic structure dalam teks yang berjenis report secara umum terdiri dari dua bagian; yaitu general classification dan description. Secara lebih detail, masing-masing bagian akan dijelaskan pada paragraf berikut.
Genre report terdiri dari general classification dan description. Pada bagian general classification, terdapat informasi tentang pengenalan hal yang menjadi pokok pembahasan dalam teks report. Bagian ini dapat berupa pengenalan singkat, dan dapat pula berupa definisi secara singkat. Sedangkan pada bagian description, dapat ditemukan informasi tentang penggambaran hal yang menjadi pokok pembahasan. Penggambaran itu dapat berupa bagian-bagian, kualitas, kebiasaan atau tingkah laku apabila yang menjadi pokok pembahasan adalah makhluk hidup, dan kegunaan apabila yang menjadi pokok pembahasan bukan merupakan makhluk hidup.

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Berikut adalah analisa contoh generic structure dari teks report!

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

General Classification

A tornado is powerful, twisting wind storm. It is one of the most destructive storms on earth. A tornado is also called a waterspout.

Description

A tornado is a long cloud which comes down from the sky. It is shaped like a funnel and consists of wind which whirls around and around extremely fast. In fact, the wind can reach a speed of more than 900 km per hour.

Most tornadoes form a long a front (boundary) between cool, dry air and warm, humid air. Weather scientists are unable to know exactly when tornados will occur. Fortunately, the tornado is not usually very big and it does not last long.

 

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Pendapat yang lain mengungkapkan bahwa teks jenis reportterdiri dari tiga bagian. Hammond (1992) menyatakan bahwa report terdiri dari tittle, general statement, dan description. Pada bagian tittle adalah judul yang dapat menunjukkan indikasi topik reportyang akan dibahas. Jadi dengan tittle pembaca dapat menangkap pokok bahasan yang ada dalam suatu teks report. Pada bagian general statement memuat pengenalan tentang topik yang manjadi pembahasan dalam teks report. Pengenalan ini dapat juga berupa definisi singkat tentang pokok pembahasan atau topik yang menjadi pembahasan dalam teks report. Sedangkan pada bagian description menyajikan penggambaran dari pokok pembahasan secara detail. Penggambaran ini meliputi penggambaran tampilan fisik, tingkah laku, tampilan alam, dan kegunaan.

Berikut juga salah satu analisa generic structuredari teks report!

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Tittle

Insect

General Statement

Insect are small creatures.

Description

They have no bones, but have six legs. Insects live everywhere, in the house, in our gardens, in the fields and in many other places. Insects are not always bad as sometimes people think. Bad insects are for instance flies, cockroaches, and mosquitoes. Such insects are not only bad but sometimes also dangerous. Flies like to live on rubbish and other dirty places. They may cause disease such as typhus, cholera, etc. A certain type of mosquito brings malaria.

Some insects are very useful to people. For example, bees which produce honey. Bees like to fly from one flower to other flowers. When a bee moves from one flower to other flower, this may cause the flowers produce seeds.

Bees are not usually dangerous, except you make them angry. If you disturb bees they will be angry. And if they are angry they will fly to attack you wherever you go. This is a very dangerous.

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Anderson & Anderson (2003) menggunakan istilah information report untuk teks jenis report menyatakan bahwa generic structure of report teks terdiri dari tiga bagian. Bagian-bagian tersebut adalah general opening statement, series of paragraphs about the subject, dan conclusion.  Pengenalan tentang hal yang menjadi pokok pembahasan dapat ditemukan pada bagian general opening statement. Sebenarnya, bagian ini memiliki fungsi yang sama dengan general classificationataupun general statement, yaitu untuk memberikan pengenalan tentang hal yang menjadi pokok pembahasan dalam teks report.

Sedangkan penggambarannya secara detail dapat ditemukan pada series of paragraphs about the subject. Mereka juga menjelaskan bahwa bagian ini describes one feature of the subject and begins with topic sentence. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggambaran pokok pembahasan dapat ditemukan pada lebih dari satu paragraf. Masing-masing paragraf memiliki kalimat utama yang menunjukkan penggambaran pada paragraf tersebut.  Bagian-bagian teks belum berakhir sampai pada description. Teks jenis reportdiakhiri dengan conclusion. Bagian conclusionmemuat ringkasan informasi yang disampaikan dan sekaligus menandai akhir dari suatu teks report.

 

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

General opening statement

Skin

Skin is an important organ of the human body. It covers all of the body and performs many special functions.

Series of paragraphs about the subject

Skin is the largest organ in the human body. It weighs between two and three kilograms and is either glabrous or hairy. Glabrous skin is that found on the palms of the hands and the soula of the feet. It is smooth and hairless. Hairy skin covers the rest of the body and this varies in texture, thickness and amount hair.

Skin is made up of two layers. The outer layer is the epidermis. This is mainly desd or dying skin cells. Beneath the epidermis is the dermis. The dermis is made from tougher fibres and is thicker than the epidermis. Within the dermis are nerves, blood vessels and glands. Skin does a number of important things for the body. It provides a protective covering for the body, helps to prevent the body from drying out, holds the body organs in place and regulates the body’s temperature.

Conlusion

The skin, therefore, is a complex part of the human body.

(Derewianka, B.  1990)

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Ciri kebahasaan juga diperlukan untuk mengenali sebuah teks sesuai dengan genrenya. Ciri kebahasaan atau yang lebih dikenal dengan linguistic feature adalah petunjuk yang dapat dikenali dengan kasat mata  juga diperlukan untuk memahami suatu teks sesuai dengan genre-nya. Linguistic feature dari teks reportadalah focus on generic participants, use of present simple tense, no temporal sequence, dan use of ‘being’ and ‘having’ clause.  Teks reportmenggunakan partisipan atau pokok pembahasan yang umum (generic). Hal ini dapat dipahami karena untuk memberikan penggambaran yang detail, terlebih dahulu ada hal yang secara umum perlu diketahui.

Ciri kebahasaan yang kedua adalah adanya use of present simple tense. Ini berarti bahwa dalam teks report  menggunakan tense dengan keterangan waktu present karena dalam penggambaran mengungkapkan hal-hal yang nyata adanya,  sehingga sesuai dengan kegunaan simple present tense yang digunakan untuk mengungkapkan general truth. Ciri yang lainnya teks report  adalah adanya no temporal sequence, sehingga dalam penggambarannya tidak ditemukan urutan waktu yang menunjukkan pada urutan kejadian. Hal ini karena memang teks report  hanya mengungkapkan penggambaran dari pokok pembahasan dan bukan menceritakan urutan urutan kejadian. Ciri kalimat yang digunakan dalam teks report terdapat use of ‘being’ and ‘having’ clause.  Klausa yang menunjukkan ‘being’ dan ‘having’ dapat mempertegas penggambaran yang diungkapkan pada bagian description.

Hammond (1992) menyatakan ciri-ciri kebahasaan yang dapat menjadi penanda teks report meliputi focus on generic participants, use of present simple tense to indicate ‘timeless’ nature of information, some technical vocabulary, use of long nominal groups to compact information, dan principally the use of verbs of being and having rather than action verbs. Pada ciri focus on generic participants adalah sama dengan ciri yang diungkapkan pada pendapat sebelumnya; yaitu bahwa teks report  menggunakan partisipan yang umum.

Penggambaran teks report  diungkapkan secara detail.  Use of present simple tense berfungsi to indicate ‘timeless’ nature of information. Hal ini berarti bahwa simple present tense digunakan untuk mempertegas bahwa informasi yang disampaikan adalah berdasarkan pada general truth yang tidak terbatas oleh keterangan waktu.

Ciri kebahasaan yang digunakan juga terdapat some technical vocabulary. Kosakata teknis juga dapat ditemui dalam teks report, karena teks ini memberikan penggambaran tentang sesuatu hal seperti ciri use of long nominal groups to compact information. Ciri ini menunjukkan bahwa penggunaan kelompok kata yang panjang memberikan penggambaran yang lebih jelas. Dengan demikian informasi yang diterima oleh pembaca juga semakin lengkap. Rangkaian kalimat dalam teks report lebih menggunakan kata kerja yang menunjukkan ‘being’ dan ‘having’ bukannya kata kerja yang menunjukkan kegiatan (action verbs) (Agustien, H. 2004).

Linguistic structure teks jenis reportada tiga hal; yaitu technical language related to the subject, generalised terms, dan use of the timeless present tense. Pada ciri kebahasaan yang pertama disebutkan bahwa dalam teks reportterdapat technical language related to the subject. Hal ini berarti bahwa istilah-istilah teknis yang terdapat pada suatu teks reporthanya berkaitan dengan pokok pembahasan yang ada dalam teks tersebut. Pada ciri generalised terms berarti bahwa dalam teks report digunakan istilah-istilah umum yang dapat dimengerti oleh orang kebanyakan. Bentuk kalimat yang digunakan dalam teks reportadalah use of the timeless present tense (Hill, L. A.  1980). Kalimatnya menggunakan bentuk simple present tense yang tidak terikat oleh keterangan waktu.

Untuk pemahaman yang lebih lanjut, berikut adalah contoh analisa teks report berdasarkan linguistic feature nya.

 

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Struktur Generik

Snakes

Ciri-ciri Leksiko- gramatika

General Classifi-

cation

 

 

 

 

Descrip-tion

Snakes are reptiles (cold-blooded creatures). They belong to the same group as lizards (the scaled group, Squamata) but form a sub-group of their own (Serpentes)

technical terms

 

 

 

classifying verbs

 

 

“timeless”

 

 

present tense

 

 

linking verbs

 

 

 

passive form of verb

 

 

generalized participants

habit

moderating words

habitat

 

parts

action verbs

comparison

Appearance

Snakes have two legs but a long time ago they had claws to help them slither along.

Snakes are not slimy. They are covered in scales which are just bumps on the skin. Their skin is hard and glossy to reduce frinction as the snake slithers along the ground.

Behaviour

Snakes often sunbake on rocks in the warm weather. This is because snakes are cold-blooded and they need the sun’s warmth to heat their body up.

Most snakes live in the country. Some types of snakes live in trees, some live in water, but most live on the ground in deserted rabbit burrows, in thick, long grass and in old logs.

A snake’s diet usually consists of frogs, lizards, and mice and other snakes. The Anaconda can eat small crocodiles and even wild boars.

Many snakes protect themselves with their fangs. Boa Constrictors can give you a bear hug which is so powerful it can crush every single bone in your body. Some snakes are protected by scaring their enemies away like the Cobra. The Flying snakes glides away from danger. Their ribs spread apart and the skin stretches Out. Its technique is just like the sugar glider’s.

 

Text source: Derewianka, 1990

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

D.    Contoh Teks Report

Normal
0

false
false
false

EN-CA
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Example 1.

Dolphin

Dolphins are sea mammals. They have to breathe air or they will die. They are members of the Delphinidae Family.

Dolphins have smooth skin. Only bany dolphins are bors with a few bristly hairs on their snouts. These hairs soon fall out. They have a long tail and the fin on the top of their back keeps the dolphin from rolling over. The female dolphins have a thick layer of fat under their skin to keep them warm when they dive very deep. The dolphin’s front fins are called flippers. They use them to turn left and right. Dolphins grow from 2 to 3 metres long and weigh up to 75 kilograms.

Dolphins hunt together in a group. A group of dolphins is called a pod. They eat fish, shrimps, and small aquid. They live in salt water oceans. Dolphins can hold their breath for six minutes.

When dolphins hear or see a ship close by they go near it and follow it for many kilometres. Dolphins can leap out of the water and do somersaults. Sometimes they invent their own tricks and stunts after watching other dolphins perform.

Dolphins are very friendly to people and have never harmed anyone. They are very playful animals.

 

Example 2.

Heart

The heart is a huge organ of muscle. The function of the heart is to pump the blood through the body. The heart is made up of four chambers, but has two hard working pumps; one is to force blood to the lungs and the other to force blood to the rest of the body.

Each person’s body contains about 4.7 litres of blood. The function of blood is to help carry food and oxygen and the other is to protect us from germs. The tubes that receive blood from the body are called veins. The blood in the veins is dark red because it is full of oxygen.

The white cells act to protect the body from invading germs. The blood receives oxygen from the lungs.

 

Example 3.

Computer

A computer is an electrical device which is used to score, process, and analyze data, or to solve mathematical calculation. A computer unit usually consists of four main parts.

The first one is the CPU. CPU stands for Central Processing Unit. This is considered as the brain of the computer as it analyzes and processes all the data entered.

The second one is the keyboard. We use the keyboard to feed the computer with information and commands. It looks like an ordinary typewriter. Each button represents a different code.

The third one is the disk drive. It is placed in the CPU. A computer unit usually has at least two disk drives. A disk functions as a device that reads all the data from a diskette.

The forth part is the monitor. It looks like a television set. It enables us to look at data we feed into the computer. All the data is displayed on the screen.

Apart from these four main parts, we still need more additional parts, such as a mouse and a printer. A mouse is used to make it easier to run a command. A printer presents output in printed form. Another thing that we need to operate a computer is a diskette. It may contain a computer program, a game, or a word processing program. It may also contain sets of data. All the data that we create is stored or recorded into a diskette as a file.

All these parts of the computer can’t work on their own. They must work together as a whole unit. If you have a personal computer at home, you must learn how to use it. You will find it very helpful.

 (Adapted from Bahan Ajar Bahasa Inggris SMA Kelas X)

 

E.  Kesimpulan

Teks jenis report adalah suatu teks yang bertujuan memberikan gambaran tentang sesuatu hal. Pokok bahasan yang digambarkan dapat berupa benda sebagai makhluk hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, manusia, binatang, dsb dan juga dapat berupa benda mati dan bukan alami.

Teks jenis ini pada dasarnya terdiri dari dua bagian penting; yaitu pengenalan dan gambaran umum. Beberapa pendapat juga yang menyatakan bahwa teks jenis reportdiakhiri pada bagian conclusion. Teks report yang paling sederhana  terdiri dari dua bagian; yaitu general classification dan description. Sedangkan yang terdiri dari tiga bagian adalah tittle, general statement, dan description. Pendapat yang menyebutkan bahwa teks reportdiakhiri dengan conclusion menyatakan bahwa generic structure suatu teks report terdiri dari general opening statement, series of paragraphs about the subject, dan conclusion.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agustien, H., et.al. (2004). Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris (Vol. 1). Jakarta:  Depdiknas.

Anderson, M. & Kathy, A. 2003. Text Types in English 2. South Yarra: MacMillan Education

Derewianka, B.  1990. Exploring how texts work. Rozelle, NSW: Primary English. Teaching Association.

Hammond, Jenny et.al. 1992. English for Social Purposes. Sydney: National Centre for English Language Teaching and Research Macquarie University.

Hill, L. A.  1980.  Elementary anecdotes in American English.  Ney York: Oxford University Press.

Kemendikbud.  2013. Permendikbud No. 54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL).  Jakarta.

Wikipedia.  2010. Multimedia.  Available on http://en.wikipedia.org/wiki/multimedia#cite_note-1.Diakses pada 15 Juli 2011.

   
   
   
   
Posted in Uncategorized | Leave a comment

The Role of Widyaiswara: How to Become an Efficient Facilitator

07012012(011)Abstract

Recently, the content of education at all levels is changing.  It includes philosophy and the way of teaching, assessing, and curriculum which are applied in the field of education.   Balai Diklat Keagamaan as an officially place for training should extend its ambition, its scope, its approach, its modes of provision and its professionalism.  The availability of efficient trainers or Widyaiswara cannot be neglected.  So it is important for widyaiswara to enlarge their capability to fulfill the need of teachers who wants to join professional development in Balai Diklat Keagamaan, or to be efficient facilitators.  So, Widyaiswara as an efficient facilitator should have to be able to fulfill various, and sometimes conflicting, roles to support authorities, school leaders and teachers and to find the right balance in such matters.  Tactic and diplomacy become increasingly important in the accurate processes of training, innovation and change

Key words: Balai Diklat, widyaiswara, efficient facilitator.

Introduction

The idea that teachers are also learners, and should always be lifelong learners, has gradually become more important over the last years to increase their professional development.  To be knowledgeable and competent teachers who are aware of societal needs, they will have to engage in lifelong learning. There are several reasons for this. First, the content of education at all levels is changing.  It includes philosophy and the way of teaching, assessing, and curriculum which are applied in the field of education recently.

Secondly, lifelong learning is also important because the pedagogy of teaching is developing rapidly. In the past, teaching was to a high extent teacher-centered and teachers were expected to transfer their knowledge to their students. Teaching is now increasingly student-centered and has turned into a process in which communication with students, among students and among colleagues is crucial. Schools have developed new structures and climates that allow teachers to become lifelong learners in connection with the local community and the outside world (OECD, 2005).

One way to engage lifelong learning is by joining an in-service training in the centre of teacher training (Balai Pendidikan dan Pelatihan Guru).  For Madrasah teachers,  Balai Diklat Keagamaan is officially the place to join such activities to increase their professional development

While teachers participate in in-service training for just a few days, actually they are increasingly challenged to participate in such new activities during their whole professional career.  By emphasizing the importance of in-service training, Balai Diklat Keagamaan should extend its ambition, its scope, its approach, its modes of provision and its professionalism.  The availability of efficient trainers or Widyaiswara cannot be neglected.  So it is important for widyaiswara to enlarge their capability to fulfill the need of teachers who wants to join professional development in Balai Diklat Keagamaan, or to be efficient facilitators.

The modern in-service training facilitator is a multi-headed monster – in a positive way – with a variety of tasks and roles. He/she is a person who operates in various organizational settings and is using a variety of educational modes, like virtual environments, group work, organizational consultation and experts’ input.

I will first describe the changing concepts of in-service training and argue that in line with developments in primary and secondary education, the contents and pedagogy of in-service training are also changing. The focus of this study is the in-service training facilitator who supports teachers to continuously develop their knowledge and skills. I will describe the dilemmas, challenges and possibilities to become an efficient in-service training facilitators and the ways they, like teachers, can develop and become a lifelong learners.

The Changing Concepts of In-Service Training

In the last decade, several countries, like Estonia, Malta and the German and French-speaking part of Belgium, have made in-service education one of the official responsibilities of teachers and made in-service education compulsory for teachers. Continuing professional development as a professional duty for individual teachers has also been reinforced in Belgium (Flemish Community), the Netherlands and Scotland (Eurydice, 2003).  Although countries support lifelong learning for teachers, the minimum annual time allocated to compulsory in-service training varies considerably from one country to the next. According to the collective labor agreement in the Netherlands, 10% of the teacher’s annual working time has to be allocated to learning activities (e.g. courses) to enhance the professional development. This 10% is by far the highest number of hours a year of all European countries.  Sweden reports the next highest number of hours a year (104 on average).

What is considered as organized in-service learning activities in various countries may also depend on the historical, social, institutional and cultural contexts and traditions of the educational systems in different regions and/or countries.  In Europe, educational systems differ among countries and sometimes even among regions of countries (Eurydice, 2003).

Previously, Indonesian educational systems were centralized organization.  In-service training centers (Balai Diklat) depend on top-down initiatives.  Now days, Balai Diklat may be organized in a more democratic way.  So, Widyaiswara should have to be able to fulfill various, and sometimes conflicting, roles to support authorities, school leaders and teachers and to find the right balance in such matters.  Tactic and diplomacy become increasingly important in the accurate processes of training, innovation and change.

The Learning Styles of Adult Learners

While in-service learning facilitators support the learning of adult learners who have a career in teaching,

I will highlight a few of the most important characteristics of adult learning that are developed within human resource management and are important to understand the work of in-service training facilitators. What is it that helps people learn?  Warries and Pieters (1992) have developed a useful model that identifies the basic determinants of successful adult learning and is known as the ARCS model, and acronym referring to the words attention, relevance, confidence and satisfaction.

First, the attention of learners must be caught; second, learners have to be certain of the relevance of the learning content; third, the learners will have to feel confident that the goals set out are within reach for them; and fourth, it must be clear that the learning fulfils a need.  It is important to realize that this creates the dilemma of balancing immediate satisfaction and long-term learning.  A pleasant learning activity may be soon forgotten; the often painful process of pushing oneself to a higher level of performance may have a lifelong impact that is highly appreciated in the longer term.

Based on some literatures, we can distinguish important characteristics for adult learning. It is nowadays commonly accepted that effective adult education has to be:

  1. Active, means that the learning must be learning by doing rather than through preaching.
  2. Constructive, This learning implies that we seek to create and develop our own knowledge and competence rather than absorb what others have found out for us
  3. Social, Learning together with and from each other.  The interaction is vital for experimenting with, and checking of, one’s own newly got insights
  4. Self-directed, Learning will be more effective when the learner is in charge of his/her own learning process and the trainer or the teacher takes the role of facilitator rather than of director.  This does not imply that this latter role cannot be taken once learner and teacher agree on it.
  5. Reflective, This does not only include a process of reflecting on ones performance in general, but also on the learning process itself.

Learning requires structure and freedom at the same time; it needs a balance between challenge and support, between stability and creative confusion.  The right balance will be a matter of continuous fine-tuning, of dialogue between learners and facilitators and between managers and teachers.  Not all of the conditions mentioned may be exclusively affected directly by widyaiswara, but still it is important for them to realize in what context learning grow well so that they can take, within their reach, whatever measure to influence this context.

Roles and Competences of Widyaiswara

Widyaiswara has many and various roles when facilitating the teaching-learning process.  They may be trainers who deliver courses on particular subjects or themes, but more and more they are organising learning through more supportive activities as coaching and mentoring.  They may also facilitate the learning of participants by creating supportive learning environments, often with the help of new technologies.  Widyaiswara, as Facilitators should create virtual learning environments, data warehouses, educational monitors, ICT-based portfolio systems, chat rooms, web-logs, web quests, etc. Facilitators may also create learning environments by means of organizational activities such as appraisal interviews, meetings of professionals, peer communication, inter-collegial consultation, self-evaluation, reflection or policy meeting as a way to support learning among staff members.

More recently, Widyaiswara have come to use research activities that help participants to reflect upon their own practice and use their new insight and understandings to improve their practice. Widyaiswara have to be able to adopt a variety of different roles, each requiring a high level of knowledge and skills. The following roles are very important to consider:

a)      Catalysts, who make participants move, who bring about change, who inspire.

b)      Experts, knowledgeable and competent in acquiring/producing new knowledge.

c)      Problem solvers, who help participants identify and solve problems they are facing.

d)     Process helpers, who support participants in their learning processes.

e)      Developers, capable to develop learning environments, materials and tools (Van Lakerveld, 1993).

f)       Professional learners, role models in lifelong professional learning.

The many and different roles of the widyaiswara creates the challenge of how to cope with them, as well as knowing where, when and why a particular role is suitable.

Professional Competence Profile of Widyaiswara

Competence is a complex concept.  It is the capability to show a particular behavior in a particular context/setting that has a certain quality.  Second, it is important to be aware that competence is a holistic concept including knowledge, skills and attitudes (Koster, Brekelmans, Korthagen, & Wubbels, 2005).

I will describe the competences of Widyaiswara, as facilitators of in-service training as follows:

The work of the facilitators is a process of preparing, planning, developing, executing and evaluating in-service training that has various sequences, repetitions and patterns of growth. The competence profile presented in Fig. 1.1 consists of 13 competences described as behavior guidelines, their contextual settings and the ‘main qualities’ of the competences in the specific contexts.   The competences are in some way organized in a chronological list trying to reflect the working process of Widyaiswara.

Fig. 1.1

Professional Profile for In-service Training Facilitators

 

Behavioral Guidelines

Context

Quality

Marketing, contracting,communicate ideas With school leaders, teachers, administrators in a non-profitenvironment as well as in a profit

environment

Client-centered
Needs assessment, surveying expectations In situations in which actors may have varying or conflicting needs and interests; it is vital to identify who is the actual learner/client Need-oriented
Web/literature searches,identifying sources of information, problem conceptualization Within limited time, one needs to find one’s way in a vast field of sources Theory-based
Exploring, describing,categorizing, comparing,

explaining, valuing

Both while working, as well asafterwards in private, data and impressions have to be systemized and analyzed Analytical
Goal setting, formulating goals and targets Since teachers (individually andcollectively) are often not aware of their goals, they must be helped to identify that. The in-service training facilitators must elaborate and double-check goals Focused
Classifying goals, choosing appropriate learning activities andmodes of provision, choosing appropriate settings and formats In various situations in which manyconstraints may be met, as far as rooms, equipment, other priorities are concerned Professionallyyet practically

designed

Organising things in time,including issues such as the logistics, the setting, the atmosphere Embedded in school work and schedules and day-to-day school priorities or elsewhere where people will be more detached from that pressure SystematicallyPlanned
Knowing the limits of ones own expertise and being open to mutually fruitful cooperation withother experts In a context in which in-school trainers, external experts, researchers and consultants of other parties may be operating Cooperative
Presenting, listening, interacting, coaching, supervising, mentoring,training, role playing, advising, writing documents/articles In interactive, educative or learningsituations with individuals or groups

of learners

Communicative
Reacting to emerging issues and needs, listening and tuning In complex situations with individuals or groups of learners, sponsors, authorities, stakeholders or other parties involved Responsive
Making inventories of reactions, learning outcomes, changedprofessional behavior and organizational impact on the school and wider impact on the (students) community In settings with learners, sponsors,authorities, stakeholders or other parties affected, or involved Evaluative
Systematic thoughts anddiscussion about what the

experiences, beliefs and concepts tell about the in-service learning facilitator’s own competence, performance and learning process

Individually, with target groups, or among other in-service trainingfacilitators Self-reflective
Meta-evaluation concerning the course of events, the cooperation,the schools context, the systemic embedded ness as well as the future perspectives In a complex reality of a contextwith various actors, such as student,

teachers, school leaders, authorities,

funding agencies, researchers, scholars, inspectorate, parents, stakeholders, etc.

Systemic,development

focused, theory-based, value-oriented, pluralistic and

respectful

One of the most important and characteristic competence of widyaiswara is the capability to assess the needs and expectations of the participants. This competence is needed in several stages of the facilitation process.  It is important in the first stage of the process in which the situation is analyzed with the person who is considered the contractor, often a school administrator.  With him/her, the facilitator analyses the situation and decides upon the outline of the support needed.  Often this contractor is not part of the target group, the individual teachers or a team of teachers, and once confronted with the target group, the widyaiswara has to identify and specify the needs and expectations of this group.

If the goals and expectations of the teachers are similar to those of the contractor, there is no problem.  However, if the needs of the contractor differ from those of the teachers, the widyaiswara has to re-do the process of needs assessment, always being aware of conflicting interests and constantly asking whom he/she considers the client. A process of listening, clarifying and negotiating will follow with all parties concerned, but in the end it is crucial that the learners, the  teachers, set their own learning goals and define the objective and ‘the best’ way to learn.

It is important for a widyaiswara to be able to analyze how committed the participants are. If participants do not feel that activities of in-service learning may be useful to them, the learning process is seldom fruitful and the process may not only be difficult for the widyaiswara, but may even fail (Lendahl Rosendahl & R’onnerman, 2006).  In the process of analyzing the needs and expectations of the participants, it may be necessary to transform unclear needs and expectations into more realistic ones. If possible, the formulation of the goals and the design of the activities could be a joint activity of all participants and part of the activities of in-service learning.  In this process, it is important that participants visualize the change: the desired effect, the present position and the route forward to reach the desired position.  By doing so, it is possible to reduce insecurity of participants and create a comprehensive picture of the learning process, its outcomes and possible effects. The importance of this becomes obvious when it comes to collective in-service learning intended to establish collective learning and changes, for instance in team teaching or changes at an organizational level.

Another important reason to emphasize assessment of the needs of the participants and a genuinely listening attitude of widyaiswara is that employees support organizational changes that make sense to them

By engaging into a dialogue with the contractors and the teachers, the in-service learning gains legitimacy and support, and as a consequence resistance towards learning, innovation and change tends to be reduced.

Widyaiswara has to find the right balance between being a critical fiend, an assessor or even an authority. A peer-like approach, for instance, may lower the starting point and may enhance mutual understanding.

The traditional widyaiswaras have to change their behavior to become facilitators of learning, their roles shifted from training to coaching and mentoring. They have to become more concerned with their own professional development and standards, and professional codes of conduct will have to be developed or revised.  These codes will have to fit in new situations in which the level of differentiation and individualization and the level of self-regulation and self-directedness have increased.

This requires a new approach to ethical standards in in-service learning in which an agreement is reached on how to deal with issues such as:

  1. the process of learning
  2. the responsibility for professional development
  3. privacy
  4. fairness
  5. transparency
  6. prevention of intimidation violence and aggression
  7. equal opportunities
  8. prevention of sexual harassment/abuse
  9. the right to appeal
  10. respectful approach of diversity
  11. independent judgment

The professional code of conducting for in-service facilitators has to be developed specifically for professional group.  This does not mean that other codes of conducting as in use for organization developers, advisors, teachers and so on cannot serve as a source for its development (SULF, 2004).

An effective widyaiswaras as facilitators also state that they value a personal portfolio as an opportunity to document, analyze and evaluate their work.  Self-analysis allows them to think about dilemmas, which are connected to one’s own actions, attitudes and values as a facilitator. Training and experience may be important to become a successful widyaiswara, but they are not sufficient.  For widyaiswara to function properly, it is important that they serve as model learners.  This implies that their professional context and network are organized accordingly.

Widyaiswara must motivate each other and be motivated by others. They benefit from professional networks that serve as communities of practice in which peer consultation takes place, in which learning is a common goal and in which mutual inspiration and support are core elements. As stated before, professional learning also requires challenges, confrontation, criticism and debate. The struggle to survive in one’s own professional community also adds to the depth and meaning of the learning process (Fransson, 2006).

Summary and Conclusions

In education, change has become the rule and stability the exception. In this context, it is the task of widyaiswara facilitates learning among professional teachers and in professional learning contexts. The work of the widyaiswara is increasingly complex and he/she has developed a professional competence profile showing that the profession of widyaiswara is broad and diverse and requires a variety of competences. These competences will have to be developed through training, experience and active intentional professional learning of the individual facilitator and within professional networks.

On top of these requirements, there are additional contextual conditions to be fulfilled. Among those are learning conditions, organizational conditions and ethical conditions. All the described topics, actions, advices and recommendations imply that learning of widyaiswara will be lifelong learning. In-service facilitators are facing new challenges, and every change or problem may be an opportunity to learn or support their teaching.

Fulfilling these conditions for professional learning is a major challenge for the profession of teacher educators – and especially for those active as in-service training facilitators.  If we consider widyaiswara to be a relatively autonomous professional, this challenge will not be solved by imposing a kind of lifelong professional curriculum on them, but rather by supporting processes in which they make optimal use of their professional context as a learning environment.

References

Eurydice (2003). The teaching profession in Europe: Profile, trends and concerns. Report III. Working conditions and pay. Series: Key topics in education in Europe. Brussels: Eurydice.

Fransson, G. (2006). Att se varandra i handling. En j¨amf¨orande studie av kommunikativa arenor och yrkesblivande f¨or nyblivna f¨anrikar och l¨arare. (To See Each Other in Action: A Comparative Study of Communicative Conditions and the Process of Becoming for Commissioned Officers and Schoolteachers). Studies in Educational Sciences 79. Stockholm: The Stockholm Institute of Education.

Koster, B., Brekelmans, M., Korthagen, F., & Wubbels, Th. (2005). Quality requirements for teacher educators. Teaching and Teacher Education, 21(2), 157–176.

Lakerveld, J. van (1993). Training the trainer for school based in-service. Culemborg: Phaedon.

Lendahl Rosendahl, B., & R’onnerman, K. (2006). Facilitating school improvement: The problematic relationship between researchers and practitioners. Journal of In-service Education. 32(4), 497–509.

OECD (2005). Teachers matter. Attracting, developing and retaining effective teachers. Education and training policy. Paris: OECD Publishing.

Sveriges universitetsl¨ararf¨orbund (SULF) (2004). Ethical Guidelines for University Teachers. Swedish Association of University Teachers. http://www.sulf.se/upload/Dokument/engelska/ Ethic%20univ%20teachers%20SULF.pdf (Accessed 2 October 2007).

Warries, E., & Pieters, J.M. (1992). Inleiding instructietheorie (Introduction to a theory of Instruction). Amsterdam/Lisse: Swets & Zeitlinger.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pentingnya Perpustakaan On-line pada Madrasah

PENTINGNYA PERPUSTAKAAN ON-LINE PADA MADRASAH

DI ERA INFORMATION COMPUTER TECHNOLOGI (ICT)

Oleh: Widayanto

Pendahuluan

Kalangan pengelola madrasah bisa berbangga karena juara pertama perpustakaan tingkat nasional antar

sekolah dan madrasah tahun 2007 adalah perpustakaan pada salah satu madrasah yaitu Perpustakaan

Madrasah Aliyah Negeri Model Jogyakarta.  Namun secara umum keberadaan perpustakaan pada

madrasah belumlah memadai.  Sudah saatnya bagi siswa madrasah di era informasi ini untuk

menjadi e-citizen yang memiliki ketrampilan informasi yang tinggi.  Sejak usia muda, siswa perlu

dibiasakan dengan e-library dan e-learning.  Hal ini bisa terjadi bila perpustakaan itu dirubah dan

diberdayakan.  Dengan jejaring yang ada di Indonesia sekarang, perpustakaan on-line sebenarnya sudah

sangat mungkin untuk diupayakan.

Bukan hanya siswa di daerah perkotaan saja yang membutuhkan perpustakaan on-line.  Sebenarnya

semakin terpencil lokasi madrasah dimana ketersediaan media cetak maupun buku sangat terbatas,

semakin siswanya membutuhkan perpustakaan on-line.  Hal ini sangat beralasan, karena dengan

perpustakaan on-line, siswa akan lebih mudah untuk mengakses informasi maupun pengetahuan yang

sulit mereka dapatkan dari buku.  Perpustakaan madrasah perlu beralih dan berubah dari suasana

tradisional menjadi perpustakaan “modern” yang lebih sering disebut dengan pusat sumber belajar atau

Learning Resource Center, atau Electronic Resource Center.

Bila dalam penyediaan perpustakaan tradisional, madrasah dihadapkan pada permasalahan penyediaan

dana untuk mendapatkan koleksi buku bermutu yang mencukupi, dan setiap saat supaya dapat dilakukan

penyiangan dan pembaruan koleksi, dengan perpustakaan on-line madrasah tentu dapat mengurangi

pendanaan penyiangan dan pembaruan koleksi.  Yang perlu dilakukan adalah menyediakan tempat di

perpustakaan yang telah ada untuk menempatkan piranti sebuah sampai dengan lima buah komputer

(kalau belum bisa lebih dari itu) yang terhubungkan dengan internet yang selanjutnya disebut Pusat

Swa-Akses (PSA) atau self-access centre.  PSA adalah suatu pusat sumber belajar yang menggunakan

teknologi untuk memperluas kemungkinan belajar mandiri demi keberhasilan belajar perorangan sesuai

dengan minat kemampuan, dan kebutuhannya.  PSA tidak saja menggunakan alat dan bahan untuk

menciptakan lingkungan belajar yang cukup kondusif, tetapi juga mengeksploitasi apa saja untuk

memberikan kesempatan belajar secara maksimal, baik dalam hal materi, waktu, pengelolaan, maupun

pelayanan.  Dengan demikian siswa madrasah dapat benar-benar belajar dengan swa-arah (self-directed).  Untuk jaringan internet, madrasah bisa memanfaatkan Telkomnet Instant, Hot-Spot, maupun

Speedy yang telah tersebar luas di seluruh tanah air.

 

Paradigma Perpustakaan on-line dalam Proses Pembelajaran Masa Kini  

Perpustakaan merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam pengelolaan pendidikan untuk mendukung

standar nasional pendidikan dimana kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum

Negara Kesatuan Republik Indonesia harus didukung oleh standar-standar: pengelolaan, kompetensi lulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan

prasarana, pembiayaan, dan penilaian.

Pada masa lalu pembelajaran lebih bersifat menghafalkan bahan-bahan yang sudah ditentukan

sebelumnya.  Pembelajaran tidak terlalu mengedepankan rasa ingin tahu, inisiatif dan kemampuan kritis

siswa.  Siswa juga mendapat ijazah/STTB-nya dari ruang kelas fisik dengan terlebih dahulu bertatap muka

secara teratur dengan guru.  Dalam konteks belajar seperti ini perpustakaan selalu diakui penting

keberadaannya, tetapi tidak wajib ada.  Komputer yang ada belum terhubungkan dengan internet

sehingga memiliki fungsi yang sangat terbatas sebagai mesin ketik elektronik belaka.  Pembelajaran

semacam ini sedikit demi sedikit mulai semakin ditinggalkan pada era informasi kini yang mana ilmu dan

teknologi telah berkembang dengan sangat cepat.

Belajar di jaman sekarang adalah untuk membangun makna, menyelesaikan masalah dan membuat

keputusan.   Belajar sedapat mungkin menyelesaikan persoalan-persoalan hidup yang sebenarnya, kegiatan untuk berfikir, berkomunikasi dan belajar yang dibangun di

atas pengetahuan dan pengalaman siswa sebelumnya.  Dalam konteks seperti ini, dibutuhkan ruang

perpustakaan yang berfungsi sebagai tempat kegiatan peserta didik dan guru memperoleh informasi dari

berbagai jenis bahan pustaka dengan membaca, mengamati, mendengar, dan sekaligus tempat petugas

mengelola perpustakaan (Permendiknas No. 24, 2007).   Perpustakaan yang dibutuhkan adalah

perpustakaan yang memungkinkan siswa mengakses informasi secara elektronik.

Pada dasarnya siswa perlu memiliki keberwacanaan informasi (information literacy) atau ketrampilan

informasi (information skill), yang meliputi:

a. mengenal kebutuhan akan informasi,

b. mengetahui bagaimana secara tepat mengidentifikasi dan mendefinisikan informasi yang dibutuhkan,

c. mengetahui dimana mendapatkan informasi secara efisien,

d. menyatukan informasi yang diperoleh ke dalam kesatuan pengetahuan yang dimiliki, dan

e. menggunakan informasi secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu.

Pada masa sekarang karakteristik masyarakat semakin kompleks.  Belajar juga tidak lagi terbatas di

bangku madrasah/sekolah.  Belajar sepanjang hayat semakin dihayati sebagai unsur penting dalam

mengembangkan profesionalisme.  Belajar semacam ini menyatukan pendidikan informal, formal dan

non-formal.

 

ICT bagi Pembelajaran Elektronik

ICT semakin tidak dapat dikesampingkan dalam proses pembelajaran yang menyiapkan siswa untuk

hidup jaman ICT itu sendiri.  Perpustakaan madrasah yang memungkinkan siswa belajar dengan

menggunakan ICT adalah perpustakaan e-learning.   Perpustakaan semacam ini harus pula dilengkapi

pustakawan yang mengelolanya. Pustakawan tidak hanya sekedar memindahkan teks dari bahan cetakan

menjadi teks elektronik di dunia maya, namun seperti pendidik lain, pustakawan perlu mengkondisikan

lingkungan belajar maya, interaksi online dan lingkungan belajar yang terkelola secara efisien.  Dalam hal

ini siswa belajar secara elektronik atau e-learning yang memungkinkan fleksibilitas dalam pembelajaran

dan yang memungkinkan umpan balik dapat dengan segera diperoleh.

Ini adalah tantangan yang harus dihadapi oleh pengelola pendidikan di madrasah khususnya.  Memang

diakui banyak yang menentang pembelajaran semacam ini.  Mereka berpendapat bahwa pembelajaran

seperti ini dapat mengurangi interaksi kemanusiaan, dan karena ketidak-abadian komputer itu sendiri.

 

ICT Merupakan Investasi Jangka Panjang

Pada saat ini ICT masih dinikmati oleh siswa yang tinggal di daerah perkotaan besar, dan lebih bersifat

komersial.  Bahkan keberadaan ICT belum dimanfaatkan siswa untuk memaksimalkan belajar mereka.

Karena itu perlu adanya upaya untuk memanfaatkan ICT bagi pembelajaran siswa.

Madrasah sebagai suatu institusi yang sangat diharapkan keberadaannya sebagai pencetak generasi yang

unggul dan agamis pada masa yang akan datang, sudah waktunya untuk memikirkan alokasi dana guna

meningkatkan mutu pembelajaran yang berbasis ICT.  Perpustakaan on-line hedaknya dapat diwujudkan

dan kemudian dimanfaatkan untuk mengatasi perubahan yang ada dalam lingkungan belajar.

 

Kesimpulan   

Perpustakaan on-line memang tidak mudah untuk diadakan di madrasah karena keterbatasan sumber

dana dan sumber daya yang dimilikinya.  Tetapi perpustakaan on-line sudah merupakan sebuah tuntutan

yang tidak dapat terhindari — bukan hanya sekedar fasilitas yang penting, tetapi fasilitas yang wajib ada

untuk investasi jangka panjang.  Semakin terpencil letak sebuah madrasah, sebenarnya madrasah itu

semakin membutuhkan perpusakaan on-line.

Dengan jejaring internet yang sudah tersedia sekarang ini, sebenarnya madrasah telah memiliki modal

dasar untuk mewujudkan perpustakaan on-line, yang memungkinkan setiap siswa memperoleh haknya

dalam hal aksesibilitas, konektifitas, pengetahuan dan informasi yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan

oleh siswa.  Perpustakaan on-line yang diberdayakan dalam pengelolaan pendidikan di madrasah akan

memperkuat ketrampilan informasi siswa dalam membangun dan mewujudkan generasi unggul, islami

dan berbasis pengetahuan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MELALUI LESSON STUDY

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

MELALUI LESSON STUDY

Drs. Widayanto, M.Pd.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Deskripsi Singkat

Mata Pendidikan dan Pelatihan (Mata Diklat) ini menjabarkan konsep dan prinsip mengembangkan model pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris, serta menjelaskan komponen dan format pengembangan model pembelajaran yang mengacu pada KTSP- Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan bagaimana mengimplementaikan model itu di dalam kelas.

B. Tujuan Pmbelajaran Umum (TPU)

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan model pembelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris, serta menjelaskan komponen dan format pengembangan model pembelajaran yang mengacu pada KTSP- Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan bagaimana mengimplementaikan model itu di dalam kelas.

C. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah pelajaran ini peserta diharapkan mampu:

1. Menjelaskan Pengertian Model Pembelajaran

2. Menjelaskan langkah-langkah pokok pengembangan Model Pembelajaran

3. Menjelaskan komponen model-model pembelajaran

4. Mengimplementasikan model pembelajaran dalam kelas

D. Pokok Bahasan

1. Pengertian dan manfaat model Pembelajaran

2. Prinsip-Prinsip pengembangan model pembelajaran

3. Komponen model-model pembelajaran

4. Langkah-langkah pokok pengembangan model pembelajaran

BAB II

PENGERTIAN LESSON STUDY

A.  Latar Belakang

Dalam  meningkatkan  kualitas  pembelajaran  di  sekolah  banyak  faktor  yang harus diperhatikan seperti: pendidik (guru), siswa, sarana dan prasarana, laboratorium  dan  kelengkapannya,  lingkungan,  dan  manajemennya.  Namun  pada kesempatan   ini   hanya  akan   dilihat   dari   segi   pendidik  (guru)   dan   siswa   yang merupakan  dua  komponen  terpenting,  yang  berperan  dalam  peningkatan  kualitas pembelajaran, dengan tidak mengesampingkan komponen atau faktor-faktor lainnya.

Dalam era sentralisasi pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran dari segi pendidik (guru) biasanya dilakukan dengan kegiatan inservice teacher training yang berupa  penyetaraan,  pelatihan,  penataran,  seminar  atau  lokakarya,  atau  kegiatan- kegiatan  lain  yang  sejenis.  Setelah  mengikuti  kegiatan  tersebut,  diharapkan  guru dapat  menerapkan  hasil  training  tersebut  dalam  pembelajaran  di  kelas.  Kegiatan- kegiatan  tersebut  telah  banyak  dilaksanakan  dengan  biaya  yang  tidak  kecil  yang dikeluarkan oleh pemerintah, baik yang berasal dari rupiah murni maupun dari dana pinjaman  luar  negeri.  Banyak  atau  sedikit,  pasti  ada  sumbangan  kegiatan  tersebut dalam  meningkatkan  mutu  pembelajaran.  Tetapi,  kebanyakan  setelah  kegiatan inservice   teacher   training,   hasil   monitoring   yang   mempersoalkan   apakah   ada peningkatan  mutu  pembelajaran  yang  dilakukan  oleh  para  peserta  tidak  tampak nyata  hasilnya.  Padahal  pada  dasarnya,  hakikat  pelaksanaan  kegiatan  inservice teacher training selain meningkatkan kualitas guru, yang lebih penting adalah guru peserta  inservice  teacher  training  mampu  menerapkan  hasil  training  dalam  proses pembelajaran   di   kelasnya   dan   mengimbaskan   kepada   rekan-rekan   guru   di sekolahnya  atau  di  kelompok  Musyawarah  Guru  Mata  Pelajaran  (MGMP).  Namun masih  banyak  guru  setelah  mengikuti  kegiatan  inservice  teacher  training,  mereka tidak mengubah cara pembelajaran untuk para siswanya. Hal ini sangat dimungkinkan   karena   dalam   kegiatan   training   tersebut   tidak   diberikan   contoh kongkret cara pembelajarannya di kelas nyata.

Mulai  tahun  2002,  Indonesia  menerapkan  sistem  desentralisasi  pendidikan. Apakah dalam era desentralisasi ini strategi peningkatan kualitas pembelajaran dari segi guru akan tetap sama seperti dalam era sentralisasi? Dalam era desentralisasi pendidikan, posisi guru berada pada titik sentral dengan tanggung jawab yang luas dan  menjadi  tumpuan  vital  dalam  pengembangan  pembelajaran  yang  dilakukan. Guru  bukan  lagi  sebagai  pelaksana  pengajaran  seperti  yang  tertulis  dalam  Garis garis   Besar   Program   Pengajaran   (GBPP)   yang   telah   ditetapkan   oleh   Menteri Pendidikan di masa lalu. Dalam era desentralisasi pendidikan, guru harus menyusun sendiri jabaran kurikulum. Kurikulum sekarang sangat sederhana, secara garis besar hanya  berisi  standar  kompetensi,  kompetensi  dasar,  dan  indikator  pencapaiannya. Guru harus menjabarkannya menjadi silabus (garis-garis besar program pengajaran yang lebih rinci), yang sesuai dengan karakteristik siswa, kemampuan sekolah, dan lingkungannya.

Pada era desentralisasi ini, guru harus lebih aktif mengambil prakarsa sendiri, karena  tidak  akan  ada  lagi  intervensi  dari  luar  yang  harus  dipatuhi  secara  mutlak. Bukan karena sesuatu yang datang dari luar dianggap pasti tidak sesuai. Tetapi yang lebih penting adalah bahwa guru lebih leluasa berperan sebagai seorang profesional. Kini guru ditantang tampil dengan kemampuan yang terbina dari dalam dirinya, guru harus mampu membuktikan kemampuan profesionalnya untuk menerima amanah sebagai pendidik yang tangguh. Secara singkat, jika pada era sentralisasi pendidikan, guru sebagai pelaksana dari apa yang telah dipikirkan oleh para birokrat, tapi   kini   guru   ditantang   untuk   berfikir   logis,  kritis,  kreatif,   dan   refleksif  dalam meningkatkan  mutu  pembelajarannya,  dan  melaksanakan  hasil  pemikirannya  ini dalam pembelajaran di kelas.

Bergantinya  sistem  sentralisasi  ke  sistem  desentralisasi  pendidikan  secara mendadak  seperti  saat  ini  tidak  akan  serta  merta  mengubah  pola  pikir  guru  yang semula sebagai pelaksana pengajaran langsung menjadi pemrakarsa pembelajaran, seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi beragamnya kualitas dan profesionalitas   guru,   dari   guru   yang   bermotivasi   peribadahan   hingga   karena keterpaksaan, dari guru yang selalu menggerutu hingga yang senantiasa tawakkal. Untuk  itu  perlu  tersedianya  pendukung  yang  memadai  dan  proses  yang  panjang dalam program pendidikan dan pembinaan guru. Perlu adanya gerakan dari bawah, dari   para   guru   untuk   mengidentifikasi   kebutuhan   dirinya   dalam   meningkatkan kompetensinya,  agar  dapat  mengembangkan  mutu  pembelajaran  pada  siswanya. Bertolak dari pandangan tersebut, ditawarkan suatu sistem pembinaan guru melalui lesson study dalam rangka peningkatan keprofesionalan guru.

B. Pengertian Lesson Study

Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian  pembelajaran  secara  kolaboratif  dan  berkelanjutan  berlandaskan prinsip-prinsip  kolegalitas  dan  mutual  learning  untuk  membangun  learning community.  Lesson  Study  bukan  suatu  metode  pembelajaran  atau  suatu  strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan Lesson Study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan  yang  dihadapi  pendidik.  Lesson  study  dapat  merupakan  suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup

3   (tiga)   tahap   kegiatan,   yaitu   perencanaan   (planning),   implementasi   (action) pembelajaran  dan  observasi  serta  refleksi  (reflection)  terhadap  perencanaan  dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

Skema kegiatan dalam lesson study

1.   Tahap perencanaan

Pada  tahap  ini  dilakukan  identifikasi  masalah  yang  ada  di  kelas  yang  akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi   masalah   dalam   rangka   perencanaan   pemecahan   masalah   tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan dengan kelas dan jadwal   pelajaran,   karakteristik   siswa   dan   suasana   kelas,   metode/pendekatan pembelajaran, media, alat peraga, dan evaluasi proses dan hasil belajar.

Dari   hasil   identifikasi   tersebut   didiskusikan   (dalam   kelompok   lesson   study) tentang  pemilihan  materi  pembelajaran,  pemilihan  metode  dan  media  yang  sesuai dengan  karakteristik  siswa,  serta  jenis  evaluasi  yang  akan  digunakan.  Pada  saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru dan pakar dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, pakar   dapat   mengemukakan   hal-hal   penting/baru   yang   perlu   diketahui   dan  diterapkan oleh para guru, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan life skill, Realistic Mathematics Education, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.

Hal yang penting pula untuk didiskusikan adalah penyusunan lembar observasi, terutama  penentuan  aspek-aspek  yang  perlu  diperhatikan  dalam  suatu  proses pembelajaran  dan  indikator-indikatornya,  terutama  dilihat  dari  segi  tingkah  laku siswa.   Aspek-aspek   proses   pembelajaran   dan   indikator-indikator   itu   disusun berdasarkan  perangkat  pembelajaran  yang  dibuat  serta  kompetensi  dasar  yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Dari   hasil   identifikasi   masalah   dan   diskusi   perencanaan   pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas :

i. Rencana Pembelajaran (RP)

ii. Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran (Teaching Guide)

iii.  Lembar Kerja Siswa (LKS)

iv.  Media atau alat peraga pembelajaran

v. Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran.

vi. Lembar observasi pembelajaran.

Penyusunan perangkat pembelajaran ini dapat dilakukan oleh seorang guru atau beberapa  orang  guru  atas  dasar  kesepakatan  tentang  aspek-aspek  pembelajaran yang   direncanakan   sebagai   hasil   dari   diskusi.   Hasil   penyusunan   perangkat pembelajaran   tersebut   perlu   dikonsultasikan   dengan   dosen   atau   guru   yang dipandang pakar dalam kelompoknya untuk disempurnakan.

Perencanaan itu dapat juga diatur sebaliknya, yaitu seorang atau beberapa orang guru  yang  ditunjuk  dalam  kelompok  mengidentifikasi  permasalahan  dan  membuat perencanaan pemecahannya yang berupa perangkat-perangkat pembelajaran untuk suatu  pokok  bahasan  dalam  suatu  mata  pelajaran  yang  telah  ditetapkan  dalam kelompok.   Selanjutnya,   hasil   identifikasi   masalah   dan   perangkat   pembelajaran tersebut didiskusikan untuk disempurnakan.

2.   Tahap Implementasi dan Observasi

Pada tahap ini seorang guru yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompoknya, melakukan implementasi rencana pembelajaran (RP) yang telah disusun tersebut, di kelas.  Pakar  dan  guru  lain  melakukan  observasi  dengan  menggunakan  lembar observasi   yang   telah   dipersiapkan   dan   perangkat   lain   yang   diperlukan.   Para observer   ini   mencatat   hal-hal   positif   dan   negatif   dalam   proses   pembelajaran, terutama  dilihat  dari  segi  tingkah  laku  siswa.  Selain  itu  (jika  memungkinkan), dilakukan   rekaman   video   (audio   visual)   yang   mengclose-up   kejadian-kejadian khusus (pada guru atau siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna  nantinya  sebagai  bukti  autentik  kejadian-kejadian  yang  perlu  didiskusikan dalam  tahap  refleksi  atau  pada  seminar  hasil  lesson  study,  di  samping  itu  dapat digunakan sebagai bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.

3.   Tahap Refleksi

Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru  yang  tampil  dan  para  observer  serta  pakar  mengadakan  diskusi  tentang pembelajaran  yang  baru  saja  dilakukan.  Diskusi  ini  dipimpin  oleh  Kepala  Sekolah, Koordinator kelompok, atau guru yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama  guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan  kesan-kesannya  selama  melaksanakan  pembelajaran,  baik  terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya observer (guru lain dan pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer. Hal yang penting  pula  dalam  tahap  refleksi  ini  adalah  mempertimbangkan  kembali  rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran  berikutnya.  Apakah  rencana  pembelajaran  tersebut  telah  sesuai  dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian,  hal-hal  apa  saja  yang  belum  sesuai,  metode  pembelajarannya,  materi dalam  LKS,  media  atau  alat  peraga,  atau  lainnya.  Pertimbangan-pertimbangan  ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

Memperhatikan  perencanaaan,  pelaksanaan  dan  observasi  serta  refleksinya, langkah-langkah   dalam   pelaksanaan   lesson   study   ini   ada   kemiripan   dengan Penelitian  Tindakan  Kelas  (PTK),  maka  setiap  kelompok  dapat  melaksanakannya sebagai  PTK,  sehingga  setiap  kelompok  lesson  study,  selain  mengadministrasi semua  perangkat  pembelajaran  dan  hasil  refleksi  harus  membuat  laporan  PTK seperti lazimnya penelitian. Bahkan akan sangat baik, jika dilengkapi dengan artikel untuk dimuat dalam jurnal.

BAB III

PELAKSANAAN LESSON STUDY

Pelaksanaan Lesson Study

Lesson  Study  adalah  suatu  model  peningkatan  mutu  pembelajaran  melalui pengkajian   pembelajaran   secara   kolaboratif   dan   berkelanjutan   berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community.  Oleh  karena  itu  lesson  study  dapat  dilaksanakan  dalam  satu  sekolah, kelompok  sekolah,  kelompok  guru  mata  pelajaran  sejenis  atau  Musyawarah  Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Suatu  sekolah  (khususnya  Sekolah  Menengah)  dapat  melaksanakan  school based  lesson  study,  jika  banyaknya  guru  mata  pelajaran  sejenis  atau  serumpun minimal  3  (tiga)  orang,  untuk  mata  pelajaran  yang  akan  diterapkan  lesson  study. Mereka dapat secara rutin bersama dan berkelanjutan dalam melaksanakan lesson study, baik dalam perencanaan (plan), implementasi (do) dan observasi serta refleksi (see) pada suatu mata pelajaran. Dalam pelaksanaan lesson study di suatu sekolah, agar tidak mengganggu kewajiban guru dalam tugas mengajarnya, perlu penyusunan   jadwal   pelajaran   yang   menyediakan   pertemuan   rutin   guru   mata pelajaran sejenis/serumpun.

Lesson  study  dapat  pula  dilaksanakan  dengan  cara:  seorang  guru  menyusun seluruh  perangkat  pembelajaran  secara  lengkap  untuk  suatu  topik  tertentu  (yang bermasalah)  untuk  didiskusikan  dengan  beberapa  teman  sejawat.  Selanjutnya  ia tampil sebagai guru model dan teman sejawat melakukan observasi, lalu melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilakukan.

Hal-hal di atas dapat dilaksanakan dalam kelompok sekolah (jika suatu sekolah tidak  memenuhi  persyaratan  untuk  melaksanakan  lesson  study),  kelompok  guru mata  pelajaran  sejenis,  atau  dalam  MGMP.  Sekali  lagi,  lesson  study  dilaksanakan secara  kolaboratif  dan  berkelanjutan,  oleh  karena  itu  pelaksanaannya  perlu  diatur sedemikian   hingga tidak mengganggu kewajiban mengajar dan diusahakan keberlanjutannya.

Lesson Study sebagai Model Pembinaaan Guru

Lesson Study merupakan kerja kolektif sekelompok guru (atau anggota MGMP), bisa  dengan  mahasiswa  dan  dosen.  Pembuatan  rencana  pembelajaran  (planning) dapat dikerjakan secara bersama-sama, diimplementasikan dengan menunjuk salah satu anggota sebagai guru model, guru lain dan pakar bertindak sebagai observer, kemudian dari hasil observasi tersebut dianalisis (melalui tahapan reflecting) secara bersama-sama.

Lesson   study   mempunyai   pengertian   belajar   pada   suatu   pembelajaran. Seseorang  (guru  atau  calon  guru)  bisa  belajar  tentang  bagaimana  melakukan pembelajaran pada mata pelajaran tertentu melalui tampilan pembelajaran yang ada (live/real  atau  rekaman  video).  Guru  bisa  mengadopsi  metode,  teknik,  ataupun strategi pembelajaran, penggunaan media, dan sebagainya yang diangkat oleh guru penampil   untuk   ditiru   atau   dikembangkan   di   kelasnya   masing-masing.   Guru lain/pengamat  perlu  melakukan  analisis  untuk  menemukan  positif-negatifnya  kelas pembelajaran  tersebut  dari  menit  ke  menit.  Hasil  analisis  ini  sangat  diperlukan sebagai  bahan  masukan  bagi  guru  penampil  untuk  perbaikan  atau  lewat  profil pembelajaran tersebut, guru/pengamat bisa belajar atas inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru lain.

Lesson study dapat dipandang sebagai model pembinaan guru dalam meningkatkan   profesionalitasnya.   Mengapa   demikian?   Pada   tahap   penyusunan perencanaan (planning), sekelompok guru dan seorang pakar berdiskusi tentang :

1.   Kondisi dan lingkungan siswa serta fasilitas yang tersedia.

2.   Rumusan  kompetensi  apa  yang  harus  dimiliki  siswa  serta  merumuskan indikator-indikator pencapaiannya

3.   Penentuan materi pelajaran yang berkenaan,  antara lain :

a.   pokok-pokok materi dan uraian masing-masing pokok materi,

b.   urutan sajian materi pelajaran,

c.   sajian materi yang disesuaikan dengan lingkungan siswa atau materi lokal atau   yang   berkaitan   dengan   life   skill   atau   yang   berkaitan   dengan keimanan/agama,

d.   pemilihan/penyusunan soal-soal latihan, soal-soal yang berkaitan dengan problem-solving  dalam  rangka  penyusunan  Lembar  Kerja  Siswa  (LKS)

dan soal-soal untuk tes formatif.

4.   Pemilihan  metode/strategi  pembelajaran  inovatif  yang  menyenangkan  dan memotivasi belajar siswa.

5.   Pemilihan media/alat peraga pembelajaran dan pengadaannya.

6.   Petunjuk guru dalam praktek pembelajarannya (teaching guide).

7.   Penentuan indikator-indikator proses pembelajaran yang dikatakan berhasil.

8.   Model Rencana Pembelajaran (RP) atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP).

Ada banyak model/format RP/SAP, mana yang perlu dipilih? Hal-hal apakah yang  penting  dan  merupakan  prinsip-prinsip  dalam  penyusunan  RP/SAP, sehingga   seorang   guru   dapat   memahami   dan   menerapkannya   dalam pembelajaran.

Materi-materi  diskusi  tersebut  dapat  diangkat  sebagai  materi  pelatihan  yang senantiasa   aktual,   mengingat   kompleksnya   perkembangan   pengetahuan   dalam dunia  yang  senantiasa  berkembang.  Sehingga  dalam  suatu  kelompok  guru  yang merasa  tertantang  dengan  suatu  permasalahan  pembelajaran  dapat  mengundang pakar yang dipandang dapat memberi pemecahan permasalahan tersebut.

Selanjutnya,  pada  tahap  implementasi  dapat  langsung  diamati  oleh observer, yang   selanjutnya   pada   tahap   refleksi   dapat   didiskusikan,   apakah   yang   telah direncanakan  tersebut  dapat  dilaksanakan  dengan  baik,  atau  ada  hal-hal  dalam perencanaan tersebut yang perlu diperbaiki, atau hal-hal lainnya  tentang pembelajaran yang telah dilakukan, baik dari segi siswa maupun guru.

Keberhasilan lesson study dapat dilihat pada dua aspek pokok, yaitu:

perbaikan  pada  praktek  pembelajaran  oleh  guru,  dan  meningkatkan  kolaborasi antar guru.

Pertama,  lesson  study  memberikan  banyak  hal  yang  menurut  para  peneliti dianggap efektif dalam merubah praktek pembelajaran, seperti :

1.   penggunaan  materi  pembelajaran  yang  konkret  untuk  memfokuskan  pada permasalahan yang lebih bermakna,

2.   mengambil konteks pembelajaran dan pengalaman guru secara eksplisit, dan

3.   memberikan dukungan pada kesejawatan guru.

Dengan  kata  lain,  lesson  study  memberikan  banyak  kesempatan  kepada  para guru untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam praktik mengajar mereka, untuk  merubah  perspektif  mereka tentang  pembelajaran,  dan  untuk belajar  melihat praktek mengajar mereka dari perspektif siswa. Dalam lesson study, kita melihat apa yang terjadi dalam pembelajaran lebih objektif dan itu membantu kita memahami ide- ide penting dalam memperbaiki proses pembelajaran.

Kedua, lesson study juga mempromosikan dan mengelola kerja kolaboratif antar guru  dengan  memberi  dukungan  dan  intervensi  sistematik.  Selama  lesson  study, para guru berkolaborasi untuk:

1.   merumuskan  kompetensi  yang  harus  dimiliki  siswa  sebagai  dasar  untuk pengembangan belajar siswa;

2.   merencanakan  dan  melaksanakan  pembelajaran  yang  berdasar  pada  hasil penelitian   dan   observasi,   agar   siswa   memiliki   kompetensi   yang   telah dirumuskan.

3.   mengobservasi  secara  hati-hati  tingkat  belajar  siswa,  keterlibatan  mereka,

dan perilaku mereka selama pembelajaran;

4.   melaksanakan   diskusi   setelah   pembelajaran   bersama   dalam   kelompok kolaboratif mereka untuk mendiskusikan dan merevisi rencana pembelajaran.

Lesson study  sebagai  suatu  strategi  dalam  meningkatkan keprofesionalan  guru oleh   para   guru,   yang   sudah   tentu   merupakan   gerakan   dari   para   guru   untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, perlu komitmen dari para guru yang didukung oleh kebijakan para pengambil keputusan, agar gerakan itu terwujud.

Wang-Iverson  dan  Yoshida  (2005)  juga  mengemukakan  definisi  dan hal-hal yang terkait dengan lesson study sebagai berikut.

1.   Lesson  study  (jugyokenkyu)  is  a  form  of  long-term  teacher-led  professional learning,   developed   in   Japan,   in   which   teachers   systematically   and collaboratively  conduct  research  on  teaching  and  learning  in  classroom  in order   to   enrich   students’   learning   experiences   and   improve   their   own teaching.

2.   A  lesson  study  cycle  generally  involves  a  team  of  teachers  planning  colla- boratively  based  upon  a  research  theme,  implementing  the  lesson  in  the classroom,  collecting  observation  data,  reflecting  upon  and  discussing  the data, and developing a record of their activity.

3.   Lesson study is more than a studying instructional materials and developing useful  lessons.  It  also  explores  ideas  for  improved  teaching  that  bring  out students’ thinking and thinking processes, helps students to develop mental images for solving problem and understanding the topic, and expands those skills and abilities.

4.   Lesson study is a comprehensive approach to professional learning that helps teachers develop ways of:

a)   thinking about learning and teaching in the classroom b)   planning lessons

c)   observing how students are thinking and learning and taking appropriate actions

d)   reflecting on and discussing teaching

e)   identifying  and  recognizing  knowledge  and  skills  necessary  to  improve their practice and seek new solutions.

5.   Lesson  study  supports  teachers  in  becoming  lifelong  learners  about  how  to develop and improve teaching and learning in the classroom.

Mengapa Lesson study?

Lesson study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan.

Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing”   pengetahuan   profesional   yang   berlandaskan   pada   praktik   dan   hasil pengajaran yang dilaksanakan  para guru,  (2) penekanan mendasar  pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam  pembelajaran  di  kelas,  (4)  berdasarkan  pengalaman  real  di  kelas,  lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson study  akan  menempatkan  peran  para  guru  sebagai  peneliti  pembelajaran  (Lewis, 2002).

Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (1) me- nentukan  kompetensi  yang  perlu  dimiliki  siswa,  merencanakan  dan  melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan  para  guru;  (4)  menentukan  standar  kompetensi  yang  akan  dicapai  para siswa;  (5)  merencanakan  pelajaran  secara  kolaboratif;  (6)  mengkaji  secara  teliti belajar  dan  perilaku  siswa;  (7)  mengembangkan  pengetahuan  pembelajaran  yang dapat diandalkan; dan (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002)

Wang-Iverson dan Yoshida (2005) mengatakan bahwa lesson study memiliki beberapa manfaat sebagai berikut.

1).  Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya)

2).  Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya

3).  Memperdalam  pemahaman  guru  tentang  materi  pelajaran,  cakupan  dan urutan materi dalam kurikulum.

4).  Membantu  guru  memfokuskan  bantuannya  pada  seluruh  aktivitas  belajar siswa.

5).  Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa

6).  Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

BAB IV

BAGAIMANA MELAKSANAKAN LESSON STUDY?

Ada berbagai variasi tahapan atau langkah pelaksanaan lesson study dalam perkembangan  implementasinya.  Lewis  (2002)  menyarankan  ada  enam  tahapan dalam awal mengimplementasikan lesson study di sekolah, yakni :

Tahap 1:  Membentuk kelompok lesson study. Tahap 2: Memfokuskan lesson study.

Tahap 3: Menyusun rencana pembelajaran.

Tahap 4: Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (observasi). Tahap 5:  Refleksi dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Tahap 6: Merencanakan pembelajaran tahap selanjutnya.

Sementara itu, Richardson (2006) menuliskan ada 7 tahap atau langkah yang termasuk dalam lesson study, yang masih mirip deng Lewis, yakni:

Tahap 1: Membentuk tim lesson study.

Tahap 2: Memfokuskan lesson study

Tahap 3: Merencanakan pembelajaran.

Tahap 4:  Persiapan untuk observasi

Tahap 5:  Melaksanakan pembelajaran dan observasinya.

Tahap 6: Melaksanakan diskusi pembelajaran yang telah dilaksanakan (refleksi).

Tahap 7: Merencanakan pembelajaran untuk tahap selanjutnya.

Di  tempat  lain,  dalam  rangkaian  adaptasi  dan  implementasi  lesson  study, Robinson  (2006)  mengusulkan  ada  delapan  tahap  berdasarkan  pada  banyaknya kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni:

Tahap  1: Pemilihan topik lesson study

Tahap  2: Melakukan reviu silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran  untuk  topik  tersebut  dan  mencari  ide-ide  dari  materi  yang ada  dalam  buku  pelajaran.  Selajutnya  bekerja  dalam  kelompok  untuk menyusun rencana pembelajaran.

Tahap  3:  Setiap  tim  yang  telah  menyusun  rencana  pembelajaran  menyajikan  atau mempresentasikan  rencana  pembelajarannya,  sementara  kelompok  lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.

Tahap  4:  Guru  yang  ditunjuk  oleh  kelompok  menggunakan  masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.

Tahap 5: Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya

di  depan  semua  anggota  kelompok  lesson  study  untuk  mendapatkan balikan.

Tahap  6:  Guru  yang  ditunjuk  tersebut  memperbaiki  kembali  secara  lebih  detail rencana   pembelajaran   dan   mengirimkan   pada   semua   guru   anggota kelompok, agar mereka tahu bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan

di kelas.

Tahap  7:  Para  guru  dapat  mempelajari  kembali  tentang  rencana  pembelajaran tersebut  dan  mempertimbangkannya  dari  berbagai  aspek  pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, khususnya difokuskan pada hal-hal yang penting  seperti  :  hal-hal  yang  akan  dilakukan  guru,  pemahaman  siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kemungkinan yang akan terjadi dalam implementasi pembelajarannya.

Tahap 8: Guru yang ditunjuk tersebut melaksanakan rencana pembelajaran di kelas, sementara guru yang lain bersama dosen/pakar mengamati sesuai dengan tugas  masing-masing  untuk  memberi  masukan  pada  guru.  Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk  memperoleh  masukan  dari  guru  observer,  dan  akhirnya  komentar dari   dosen   atau   pakar   luar   tentang   keseluruhan   proses   serta   saran sebagai   peningkatan   pembelajaran,   jika   mereka   mengulang   di   kelas masing-masing atau untuk topik yang berbeda.

Dari  delapan  tahapan  di  atas  tampak  adanya  upaya  penyusunan  dan perbaikan rencana pembelajaran yang berulang-ulang untuk memperoleh rencana pembelajaran yang terbaik.

Dalam  implementasi  lesson  study  yang  dilakukan  oleh  IMSTEP-JICA  di Indonesia,  Saito,  dkk  (2005)  mengenalkan  lesson  study  yang  berorientasi  pada praktik.  Lesson study yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni:

1.   Merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat- alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap Plan.

2.   Melaksanakan  pembelajaran  yang  mengacu  pada  rencana  pembelajaran  dan alat-alat   yang   disediakan,   serta   mengundang   rekan-rekan   sejawat   untuk mengamati. Kegiatan ini disebut tahap Do.

3.   Melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat/tanggapan dan diskusi bersama pengamat/observer. Kegiatan ini disebut tahap See.

Lebih jelasnya digambarkan dalam bagan berikut.

Gambar 2: Daur Studi Pembelajaran Berorientasi pada Praktik

Berikut ini akan diuraikan secara lebih detil keenam tahap yang dikemukakan oleh Lewis.

1. Membentuk Kelompok Lesson study

Setidak-tidaknya ada empat kegiatan yang perlu dilakukan dalam membentuk kelompok  lesson  study.  Keempat  kegiatan  tersebut  adalah

(1)  merekrut  anggota kelompok,

(2)  menyusun  komitmen  tentang  tugas-tugas  yang  harus  dilakukan,

(3) menyusun jadwal pertemuan, dan

(4) membuat aturan-aturan kelompok.

Anggota  kelompok  lesson  study  pada  dasarnya  dapat  direkrut  dari  guru, dosen,  supervisor  akademik,  pejabat  pendidikan,  dan/atau  pemerhati  pendidikan. Yang  sangat  penting  adalah  mereka  mempunyai  komitmen,  minat,  dan  kemauan untuk  melakukan  inovasi  dan  memperbaiki  kualitas  pendidikan.  Setiap  anggota kelompok lesson study harus memiliki komitmen, agar dia menyiapkan waktu khusus untuk mewujudkan atau mengimplementasikan lesson study. Para anggota kelompok ini biasanya menyelenggarakan pertemuan-pertemuan rutin baik mingguan, bulanan, semesteran, maupun tahunan dalam satu tahun ajaran tertentu.

Di  samping  itu,  mereka  juga  bisa  bertindak  sebagai  guru  untuk  melakukan  suatu

research lesson.

Seperti   dikemukakan   di   atas,   pertemuan-pertemuan   anggota   kelompok diperlukan adanya jadwal yang harus ditaati oleh setiap anggota kelompok. Jadwal

itu mengatur  semua  tugas  yang  terkait  dengan  kegiatan  anggota  kelompok, termasuk tugas mengajar rutin. Anggota kelompok yang bertugas sebagai guru tentu saja tidak boleh meninggalkan kelas mengajarnya, sehingga kegiatan lesson study tidak mengganggu tugas pokok mengajar. Oleh karena itu, dalam menyusun jadwal pertemuan hharus mempertimbangkan tugas pokok mengajarnya, agar tugas pokok tersebut tidak ditinggalkan.

2. Memfokuskan Lesson study

Pada langkah ini ada tiga kegiatan yang dapat dilakukan, yaitu menyepakati tema permasalahan, fokus permasalahan, atau tujuan utama pemecahan masalah, memilih subbidang studi, serta memilih topik dan unit pelajaran.

Terkait dengan penentuan tema permasalahan suatu lesson study, kita perlu memperhatikan   tiga  hal.

Pertama,   bagaimana   kualitas  aktual   para  siswa  saat sekarang?  Kedua,  bagaimana  kualitas  ideal  para  siswa  yang  diinginkan  di  masa mendatang?  Ketiga,  adakah  kesenjangan  antara  kualitas  ideal  dan  kualitas  actual para  siswa  yang  menjadi  sasaran  lesson  study?  Kesenjangan  inilah  yang  dapat diangkat menjadi bahan tema permasalahan.

Mata pelajaran yang digunakan untuk lesson study ditentukan oleh anggota kelompok  lesson  study.  Anggota  kelompok  bisa  memilih,  misalnya  mata  pelajaran IPA, Bahasa, atau Matematika, dan sebagainya sesuai dengan minat para anggota. Sebagai  panduan  untuk  memilih  mata  pelajaran,  kita  dapat  menggunakan  tiga pertanyaan  berikut.  Pertama,  mata  pelajaran  apa  yang  paling  sulit  bagi  siswa?. Kedua,  mata  pelajaran  apa  yang  paling  sulit  diajarkan  oleh  guru?.  Ketiga,  mata pelajaran apa yang ada pada kurikulum baru yang ingin dikuasai dan dipahami oleh guru?.

Setelah menentukan mata pelajaran, langkah berikutnya adalah memilih topik dan  pembelajaran.  Topik  yang  dipilih  sebaiknya  adalah  topik  yang  menjadi  dasar bagi topik-topik berikutnya, topik yang selalu sulit bagi siswa atau tidak disukai siswa, topik  yang  sulit  diajarkan  atau  tidak  disukai  oleh  guru,  atau  topik  yang  baru  dalam kurikulum.  Topik  dipilih  harus  sesuai  dengan  kompetensi  dasar  yang  perlu  dimiliki oleh  siswa.  Berdasarkan  kompetensi  dasar  ini  kita  menyusun  pembelajaran  yang akan menunjang tercapainya kompetensi tersebut.

3. Merencanakan Pembelajaran

Di   dalam   merencanakan   pembelajaran   (instructional   improvement),   di samping mengkaji pembelajaran-pembelajaran yang sedang berlangsung, kita perlu

mengembangkan suatu rencana untuk memandu belajar (plan to guide learning).

Rencana itu akan memandu proses pembelajaran, pengamatan, dan diskusi tentang pembelajaran  serta  mengungkap  temuan  yang  akan  muncul  selama  lesson  study berlangsung.  Rencana  untuk  memandu  belajar  itu  merupakan  suatu  hal  yang kompleks.  Suatu  rencana  pembelajaran  diharapkan  akan  menjawab  pertanyaan yang sangat penting, yaitu “perubahan-perubahan apa yang akan terjadi pada siswa selama pelajaran berlangsung dan apa yang akan memotivasi mereka.

Daftar   pertanyaan   berikut   mungkin   dapat   membantu   untuk   memandu perencanaan pembelajaran (Lewis, 2002).

1.  Apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini?

2.  Apa yang kita inginkan dari siswa untuk dipahami pada akhir pembelajaran?

3.  Rentetan  pertanyaan  dan  pengalaman  apa  yang  akan  mendorong  para  siswa untuk berpindah dari pemahaman awal menuju pemahaman yang diinginkan?

4.  Bagaimana  para  siswa  akan  menjawab  pertanyaan  dan  aktivitas  apa  yang dilakukan  siswa  pada  pembelajaran  tersebut?  Apakah  terdapat  masalah  dan miskonsepsi  yang  akan muncul?  Bagaimana  guru  akan  menggunakan idea  dan miskonsepsi untuk  meningkatkan pembelajaran tersebut?

5.  Apa  yang  akan  membuat  pembelajaran  ini  mampu  memotivasi  dan  bermakna

bagi siswa?

6.  Apakah  diperlukan  bukti  tentang  belajar  siswa,  motivasi  siswa,  perilaku  siswa yang   perlu   dikumpulkan,   yang   nantinya   dapat   didiskusikan   dalam   kegiatan refleksi? Bagaimanakah format pengumpulan data yang diperlukan?

Penyusunan  lembar  observasi  untuk  pengumpulan  data  ini  merupakan  suatu elemen  penting  yang  didasarkan  pada  rencana  pembelajaran  yang  telah  disusun. Lembar   observasi   ini   memandu   pengamat   untuk   memperhatikan   aspek-aspek khusus   dari pelaksanaan pembelajaran. Anggota kelompok lesson study dan guru- guru  biasanya  diberikan  tugas  dan  format  pengumpulan  data  untuk  membantu mereka   dalam   mengumpulkan   data.   Pengumpulan   data   itu   biasanya   dikaitkan dengan denah tempat duduk siswa, daftar anggota setiap kelompok siswa, catatan tentang  pemikiran  awal  siswa,  daftar  cek  untuk  mencatat  hal-hal  penting  tentang karya siswa, catatan tentang partisipasi setiap siswa dari suatu kelompok kecil, atau data lainnya yang diperlukan/mendukung.

Data  yang  dikumpulkan  selama  lesson  study  biasanya  memuat  bukti  tentang aktivitas belajar, motivasi, dan iklim sosial. Walaupun pengumpulan data lebih difo kuskan  pada  siswa,  namun  juga  bisa  dilakukan  untuk  mencatat  ucapan,  gerakan guru, dan waktu yang digunakan guru pada setiap elemen pembelajaran.

Satu bagian penting lagi dan yang patut dipertimbangkan dalam merencanakan lesson  study  adalah  kehadiran  ahli/pakar  dari  luar.  Mereka  bisa  berasal  dari  guru senior  atau dosen  yang  memiliki  pengetahuan  tentang  bidang  studi  yang  dipelajari dan/atau bagaimana mengajar bidang studi tersebut. Keterlibatan ahli/pakar dari luar

ini akan lebih efektif jika berlangsung sejak awal. Dengan cara ini, ahli/pakar tersebut mempunyai kesempatan dalam membantu merancang pembelajaran, memberi saran tentang sumber-sumber kurikulum, dan bertindak sebagai komentator dan motivator terhadap pelaksanaan lesson study.

4. Praktik Pembelajaran dan Observasi

Rencana  pembelajaran  yang  telah  disusun  bersama  diimplementasikan  oleh seorang  guru  yang  ditunjuk  (disepakati)  oleh  kelompok  dan  diamati  oleh  guru  lain dan  pakar/ahli  dari  luar.  Pengamat  akan  mengumpulkan  data  yang  diperlukan selama   pelajaran   berlangsung.   Untuk   mendokumentasikan   proses   pelaksanaan pembelajaran biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan audiotape, videotape, handycam, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Peranan pengamat selama  lesson  study  adalah  mengumpulkan  data  dan  bukan  membantu  apalagi mengganggu siswa. Para siswa harus diberitahu lebih dahulu bahwa pengamat atau guru lain di kelas mereka itu hanya bertugas untuk mempelajari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk membantu ataupun menilai mereka.

Selanjutnya,  setiap  anggota  kelompok  lesson  study  sebaiknya  diberi  tugas dengan tanggung jawab tertentu. Untuk ini setiap anggota kelompok memahami isi dari   semua   perangkat   pembelajaran   yang   digunakan   guru,   seperti   rencana pembelajaran,  lembar  kerja  siswa  (LKS),  teaching  guide,  dan  lembar  observasi, sehingga mereka akan lebih cermat dalam mengamatinya.

5. Refleksi dan Menganalisis Pembelajaran yang Telah Dilakukan

Rencana  pembelajaran  yang  sudah  diimplementasikan  perlu  dilakukan  refleksi dan  dianalisis.  Hal  ini  perlu  dilakukan,  karena  hasil  refleksi  dan  analisis  tersebut dapat   dijadikan   sebagai   bahan   masukan   untuk   perbaikan   atau   revisi   rencana pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran berikutnya diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien.

Refleksi  tentang  pelaksanaan  pembelajaran  sebaiknya  memuat  butir-butir:  (1) refleksi dari guru pelaksana pembelajaran, (2)tanggapan umum dari  observer /pengamat,  (3)  presentasi  dan  diskusi  tentang  hasil  pengolahan  data  dari pengamat, (4) tanggapan dan saran dari ahli/pakar.

Beberapa bagian penting yang berguna sebagai panduan refleksi pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut.

Pertama,   guru   yang   melakukan   pembelajaran   diberi   kesempatan   menjadi pembicara pertama untuk mengemukakan semua kesulitan dalam pembelajarannya, kesalahan  yang  diperbuatnya  selama  pembelajaran,  atau  hal-hal  lain  yang  terjadi dalam pembelajaran dan perlu dikemukakan dalam refleksi.

Kedua,   pembelajaran   yang   disampaikan   merupakan   milik   semua   anggota kelompok  lesson  study.  Ini  adalah  pembelajaran  “kita”,  bukan  pembelajaran  “saya” ataupun  pembelajaran  ”Anda”,  sehingga  hal  ini  direfleksikan  pada  setiap  anggota kelompok. Anggota kelompok  bertanggung jawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang telah disusun bersama tersebut.

Ketiga, para guru yang merencanakan pembelajaran itu sebaiknya menceritakan mengapa mereka merencanakan itu, perbedaan antara apa yang mereka

rencanakan  dan  apa  yang  sesungguhnya  terjadi  dalam  pelaksanaan,  serta  aspek- aspek pelajaran yang mereka inginkan agar para pengamat mengevaluasinya.

Keempat,   diskusi   yang   berfokus   pada   data   yang   dikumpulkan   oleh   para pengamat.  Para  pengamat  membicarakan  secara  spesifik  tentang  kegiatan  siswa dan karya siswa yang mereka catat. Pengamat tidak membicarakan tentang kualitas pelajaran berdasarkan kesan mereka, tetapi mereka membicarakan atas dasar fakta yang ditemukan.

Kelima,   waktu   refleksi   bebas   terbatas,   oleh   sebab   itu   hanya   terdapat kesempatan yang terbatas (Lewis, 2002).

Refleksi dari pelaksanaan pembelajaran ini dilaksanakan segera, pada hari yang sama,  setelah  rencana  pembelajaran  diimplementasikan.  Hal  ini  seperti  yang  telah dikemukakan  sebelumnya  bahwa  hasil  diskusi  dan  analisis  ini  dapat  digunakan sebagai  pertimbangan  untuk  merevisi  materi  pelajaran,  pendekatan  pembelajaran, dan media yang digunakan.

6. Merencanakan Tahap-tahap Berikutnya

Dalam   merefleksikan   lesson   study,   hal   yang   perlu   dilakukan   adalah memikirkan  tentang  apa-apa  yang  sudah  berlangsung  dengan  baik  sesuai  dengan rencana  dan  apa-apa  yang  masih  perlu  diperbaiki.  Sekarang  tiba  saatnya  untuk berpikir tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya oleh kelompok lesson study. Apakah   anggota   kelompok berkeinginan   untuk   membuat   peningkatan   agar pembelajaran   ini   menjadi   lebih   baik?   Apakah   anggota-anggota   yang   lain   dari kelompok  lesson  study  ini  berkeinginan  untuk  mengujicobakan  pembelajaran  ini pada  kelas  mereka  sendiri?  Apakah  anggota  kelompok  lesson  study  puas  dengan pelaksanaan lesson study dan  operasional kelompok? (Lewis, 2002).

Pertanyaan-pertanyaan   berikut   juga   dapat   membantu   dalam   melakukan refleksi  terhadap  siklus  lesson  study  maupun  memikirkan  langkah  yang  akan  dila- kukan berikutnya. Pertanyaan tersebut (menurut Lewis, 2002), antara lain :

a.   Apa yang berguna atau nilai tambah apa tentang pelaksanaan lesson study

yang telah dikerjakan bersama?

b.   Apakah  lesson  study  membimbing  kita  untuk  berpikir  dengan  cara  baru tentang praktek pembelajaran sehari-hari?

c.   Apakah lesson study membantu mengembangkan pengetahuan kita tentang materi   pelajaran   serta   pengetahuan   tentang   pembelajaran   yang   sesuai dengan perkembangan siswa?

d.   Apakah  pelaksanaan  lesson  study  menarik  bagi  kita  dalam  meningkatkan keprofesionalan kita?

e.   Apakah pelaksanaan lesson study yang dilakukan secara

kolaboratif/bersama-sama merupakan suatu kerja yang produktif dan suportif?

f. Sudahkah kita membuat kemajuan pembelajaran secara menyeluruh melalui pelaksanaan lesson study?

g.   Apakah semua anggota kelompok kita merasa terlibat dan berguna?

h.   Apakah  pihak  yang  bukan  peserta  kelompok  memperoleh  informasi  atau manfaat dari hasil pelaksanaan  kegiatan lesson study kita?

BAB V

KESIMPULAN

Guna  meningkatkan  kualitas  pembelajaran  di  sekolah,  faktor penting  yang harus diperhatikan adalah peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik (guru).

Lesson study dipilih untuk mewujudkan peningkatan mutu pembelajaran di sekolah karena : lesson studymerupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil “sharing”   pengetahuan   profesional   yang   berlandaskan   pada   praktik   dan   hasil pengajaran yang dilaksanakan  para guru,  (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam  pembelajaran  di  kelas,  (4)  berdasarkan  pengalaman  real  di  kelas,  lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson study  akan  menempatkan  peran  para  guru  sebagai  peneliti  pembelajaran  (Lewis,2002).

Daftar Pustaka

Fernandez,   Clea   and   Yoshida,   Makoto.   (2004).   Lesson   Study   :   A   Japanese Approach  to  Improving  Mathematics  Teaching and  Learning.  New  Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.

Garfield,  J.  ().  Exploring  the  Impact  of  Lesson  Study  on  Developing  Effective Statistics Curriculum. (Online): diambil tanggal 19-6-2006 dari: www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc.

Lewis, Catherine C. (). Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional

Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

Morgan, Shawn. 2001. Teaching Math the Japanese Way (Online), Diambil tanggal

16 Mei 2005 dari: http://www.as1.org/alted/lessonstudy.htm,.

Robinson, Naomi. 2006. Lesson Study: An example of its adaptation to Israeli middle school teachers. (Online): stwww.weizmann.ac.il/G-math/ICMI/ Robinson_proposal.doc

Richardson, J. 2006. Lesson study: Teacher Learn How to Improve Instruction.

Nasional Staff Development Council. (Online): www.nsdc.org. 03/05/06.

Saito,  E.,  Imansyah,  H.  dan  Ibrohim.  2005.  Penerapan  Studi  Pembelajaran  di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP. Jurnal Pendidikan“Mimbar Pendidikan”, No.3. Th. XXIV: 24-32.

Saito, E., (2006). Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project. Improving Schools. Vol.9 (1): 47-59

Takashi A. (2006). Implementing lesson study in North American schools and school (makalah yang dipresentasikan pada seminar “APEC International Symposium  on  Innovation  and  Good  Practice  for  Teaching  and  Learning Mathematics  through  Lesson  Study”,  14-17  Juni  2006).  Thailand:  Khon Kaen University.

Tim  Piloting.  (2002).  Laporan  Kegiatan  Piloting.  Yogyakarta:  IMSTEP-JICA  FMIPA UNY.

.(2003). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

. (2004). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

Tim Pengembang Sertifikasi Kependidikan. (2003). Pedoman Sertifikasi Kompetensi Tenaga  Kependidikan  (draft).  Jakarta:  Direktorat  Pembinaan  Pendidikan Tenaga   Kependidikan   dan   Ketenagaan   Perguruan   Tinggi   Ditjen   Dikti Depdiknas.

Walker, J.S. (…). UWEC Math Dept. Journal of Lesson Studies. (Online)

Wang-Iverson, Patsy and Yoshida, Makoto (Editors). (…). Building Our understanding   of   Lesson   study.   Philadelphia,   PA:   Research   for   Better Schools.

BAHAN AJAR PLAN – DO – SEE

DALAM LESSON STUDY

Diklat Lesson Study

bagi guru-guru se KKM MTsN Wonorejo Kab. Pasuruan Jatim

Oleh:

Widayanto

Widyaiswara Madya BDK Surabaya

NIP: 150 255 992/196512031992031002

DEPARTEMEN AGAMA

BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEAGAMAAN SURABAYA

JL. KETINTANG MADYA 92 SURABAYA

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Album Rapat Komite MAN 3 Malang

Ini adalah Album Rapat Komite MAN 3 Malang pada Sabtu tanggal 30 April 2011

di MAN 3 Malang Jam 12.30 sd 21.00 WIB

Posted in Uncategorized | Leave a comment