PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM MENULIS TEKS PROCEDURE

PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DALAM MENULIS TEKS PROCEDURE

ABSTRAK

Drs. Widayanto, M.Pd. & Dra. Tri Hidayati Rohmah.  2010.  The Implementation of Contextual Teaching and Learning
(CTL) Approach in Writing Procedure Text. A Quasi experimental study in grade VII MTsN Wonorejo Kab. Pasuruan.
A collaborative study.

This study is intended to improve the condition of teaching learning process for English Teacher.

There are some condition which did not support teaching process such as  less using of English to the students daily life, the students have low motivation to study English, the style of English Teachers still apply teacher centered,  less innovation from the teacher to implement student centered approach.  So it is important to solve the problem
by an approach which makes the situation and condition of the classroom become active, creative, democratic,  dynamic, student centered, through    Contextual Teaching and Learning (CTL) approach.

This study utilizes Quasi Experimental Study, conducted in MTsN Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Grade VII A as a  control group while grade VII B as an experimental group. The data gathered through four instruments: (1) test,  (2) observation, (3) interview, and (4) questionnaire. The data was analyzed with t-test.

The result of the study shows that Contextual Teaching and Learning (CTL) approach improved the result of students’ learning on the product as well as the process. In the experimental group, the highest score 9.0 while the lowest  6.5.  The students’ score rate 7.4, with deviation standard 0.7589.  In the control group, the highest score 7.0  while the lowest 4.0, the students’ score rate 5.63, with deviation standard 0.8503.  In process, the students in  the experimental group found more variation and source of learning compared to control group.  In another words, Contextual Teaching and Learning (CTL) approach can become one alternative of approaches which suitable in teaching  English at MTs to increase the quality of product and process of students’ learning.

Key Words : Learning, Contextual Teaching and Learning, Writing procedure.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Masalah

Secara umum Bahasa Inggris memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta
didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan
membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga
membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan
menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Inggris di MTs meliputi kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami
dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yakni
mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis secara terpadu untuk mencapai tingkat literasi functional; dan juga
kemampuan memahami dan menciptakan berbagai teks fungsional pendek dan monolog serta esei berbentuk procedure,
descriptive, recount, narrative, dan report. Gradasi bahan ajar tampak dalam penggunaan kosa kata, tata bahasa, dan
langkah-langkah retorika,

Tingkat literasi mencakup performative, functional,  informational, dan epistemic. Pada tingkat performative, orang
mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat functional,
orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau
petunjuk. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada
tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran (Wells,1987).

Pembelajaran bahasa Inggris di MTs ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni
berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.

Banyak yang mengatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris tidak berhasil (Lestari, 2003).  Salah satu sebab kegagalan
ini adalah budaya pengajaran di kelas yang kita miliki tidak kondusif untuk menunjang proses pembelajaran.  Di dalam
kelas murid dituntut untuk duduk manis, mendengarkan guru secara seksama dan mematuhi semua keterangannya.  Guru
adalah merupakan satu-satunya orang yang dianggap mengetahui segala sesuatu dan oleh karena itu, dia mendominasi
kegiatan di kelas.

Diberlakukannya kurikulum 2006 merupakan hal yang sangat mengembirakan bagi pelajaran menulis, karena menulis
mendapatkan porsi seimbang dengan keempat kemampuan berbahasa yang lainnya tak terkecuali pelajaran menulis teks
procedure.  Namun, kegembiraan itu diikuti oleh semacam kebingungan tertentu bagi sebagian besar guru di lapangan
pada saat pembelajaran menulis berlangsung (Sayuti, 2004: 4).

Demikian pula pembelajaran menulis teks procedure di MTsN Wonorejo Kab. Pasuruan.  Kebingungan itu tampak karena:
(1) pembelajaran menulis oleh sebagian besar guru Bahasa Inggris masih berorientasi pada pengetahuan menulis, (2)
sebagian guru kurang/belum bisa menulis dalam Bahasa Inggris dengan benar, dan, (3) sebagian guru tidak/belum
mengetahui bagaimana strategi mengajar menulis.  Kebingungan itu bertambah lagi ketika mengetahui pembelajaran
menulis procedure merupakan salah satu KD Pelajaran Bahasa Inggris Kelas VII.

Dari analisis konseptual dan empiris menyangkut pembelajaran Bahasa Inggris dan pendekatan yang digunakan oleh guru
dalam belajar sebagaimana yang diuraikan di atas, maka pemahaman yang seksama terhadap karaktetistik topik dan
kepentingan belajar siswa dalam mempelajari Bahasa Inggris tentang  menulis teks procedure merupakan salah satu
hal yang diduga dapat mengeliminir permasalahan siswa dalam mempelajari Bahasa Inggris. Guru hendaknya mampu
memilih dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan harapan siswa
dalam mempelajari Bahasa Inggris.

Penelitian ini akan difokuskan pada upaya pengembangan dan pemahaman guru terhadap pendekatan Contextual Teaching
and Learning (CTL) dalam pembelajaran  Bahasa Inggris tentang menulis teks procedure, dan penelusuran terhadap
faktor-faktor yang menjadi pendukung dan kendala dalam menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
di MTs Negeri Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Hal ini penting dilakukan, mengingat pendekatan merupakan salah satu
kunci keberhasilan siswa dalam mempelajari Bahasa Inggris. Menurut Mulyasa (2005:102) “pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran inovatif yang dapat digunakan untuk
mengefektifkan dan menyukseskan implementasi kurikulum 2006”.

1.2   Rumusan Masalah Dan Pertanyaan Penelitian.

Sesuai dengan uraian yang telah dikemukakan di atas, diduga bahwa penggunaan pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) dalam pembelajaran Bahasa Inggris akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik proses maupun
product khususnya menulis procedure. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah ”Apakah pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran
Bahasa Inggris tentang menulis teks procedure?”. Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
pertanyaan penelitiannya adalah sebagai berikut:

- Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan penguasaan konsep siswa yang belajar dengan pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional?

- Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan inkuiri  siswa yang belajar dengan pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional?

- Apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara keseluruhan (kemampuan inkuiri dan kemampuan pemahaman konsep)
siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan
konvensional?

- Bagaimanakah respon siswa dan guru terhadap pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL)?

1.3   Asumsi Penelitian

Asumsi atau anggapan dasar penelitian merupakan landasan pemikiran dalam suatu penelitian yang sedang dilakukan
yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arikunto (1996: 60) “bahwa anggapan
dasar adalah titik pemikiran yang digunakan dalam suatu penelitian, yang kebenarannya diterima oleh peneliti”.
Adapun asumsi atau titik tolak dalam penelitian ini adalah:
1.   Siswa pada dasarnya mempunyai kemampuan yang sama, aktifitas dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran
dapat meningkatkan hasil belajar. Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa
akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka
merasa mampu dan dapat berhasil. (Furqon : 2001) Evaluasi (baca: pengujian) pendidikan harus mampu
menyediakan informasi yang membantu guru meningkatkan kemampuan mengajar dan membantu siswa mencapai
perkembangan pendidikannya secara optimal. (Furqon : 2001)

1.4   Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang harus dibuktikan kebenarannya, sebagaimana
yang diungkapkan oleh Sudjana (1992: 27) bahwa: Hipotesis adalah perumusan sementara mengenai sesuatu hal yang
dibuat untuk menjelaskan sesuatu dan menuntun serta mengarahkan kepada penelitian selanjutnya. Dikatakan sementara
karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori yang relevan (teoritis) belum didasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data atau penelitian.

Berdasarkan asumsi-asumsi penelitian di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan penguasaan konsep siswa yang belajar dengan pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan inkuiri siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional.

Terdapat perbedaan yang signifikan secara keseluruhan (kemampuan inkuiri dan kemampuan pemahaman konsep) siswa
yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan
konvensional.

1.5. Definisi Operasional

Definisi operasional dimaksudkan untuk menghindari perbedaan interpretasi yang mungkin terjadi. Hal ini sesuai
dengan pendapat Tuckman (1978: 13) yang mengemukakan: “Operationalizing variables means stating them in an
observable and measurable form, making them available for manipulation, control, and examination”.  Untuk
menghindari perbedaan interpretasi ini, penulis akan menjelaskan istilah-istilah yang terkandung dalam judul
penelitian ini.

1.5.1  Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), sebagai suatu pendekatan yang diterapkan pada kelas eksperimen.
Pendekatan ini ditandai dengan adanya tujuh komponen pokok dalam proses pembelajaran, sebagaimana yang dikemukakan
oleh Depdiknas (2002:5), yaitu: (1) kontrukstivisme (constructivism), (2) menemukan (inquiry), (3) bertanya
(questioning), (4) masyarakat belajar (learning community), (5) pemodelan (modeling). (6) refleksi (reflection),
dan (7) penilaian yang sebenarnya (authentic assesment). Suatu kelas dikatakan menggunakan pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL), jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL), merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi
pembelajaran dengan dunia peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan
menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Melalui proses penerapan kompetensi dalam
kehidupan sehari-hari, peserta didik merasakan pentingnya belajar, dan mereka memperoleh makna yang mendalam
terhadap apa yang dipelajarinya.

1.5.2  Pendekatan  Konvensional
Pendekatan konvensional adalah suatu pendekatan yang diterapkan pada kelas kontrol, yang di dalamnya ditandai dengan
proses pembelajaran yang didominasi oleh guru, mulai dari kegiatan membuka pembelajaran, kegiatan inti yang berupa
guru menjelaskan atau memberikan informasi dengan ceramah, pemberian ilustrasi atau contoh-contoh, kemudian siswa
mengajukan pertanyaan, sampai akhirnya guru merasa bahwa apa yang telah diajarkannya dapat dimengerti oleh siswa.

Dahar (1989) mengistilahkan pendekatan konvensional yang dimaksudkan di sini dengan sebutan pendekatan biasa.
Menurutnya pendekatan ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:  Siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka
belajar pada hari itu. Guru biasanya mengajar dengan berpedoman kepada buku, dengan mengutamakan metode
ekspositori dan kadang-kadang tanya jawab. Tes atau evaluasi biasanya bersifat sumatif dengan maksud untuk
mengetahui perkembangan atau performasi siswa. Siswa harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru, dengan
patuh mempelajari urutan yang ditetapkan dan kurang sekali mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya.

1.5.3   Penguasaan Konsep

Penguasaan Konsep, adalah kemampuan siswa dalam memahami dan memaknai kata-kata yang mengklasifikasi, mengkategorisa
si dan menjabarkan seperangkat fakta yang saling berkaitan (Wiriaatmadja, 2002:300). Kemampuan siswa untuk dapat
memperoleh, mengklasifikasi dan mengkategorikan pengetahuan sendiri melalui sumber belajar harus dikembangkan
secara optimal, karena pada dasarnya anak memiliki potensi untuk mencari, menemukan dan mengembangkan hasil
perolehannya dalam bentuk fakta dan informasi yang direkonstruksi menjadi satu konsep.

1.5.4   Kemampuan Inkuiri

Kemampuan Inkuiri, Menurut Hamalik (1991): “suatu strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok-kelompok siswa
dihadapkan pada suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan
struktur kelompok yang digariskan secara jelas. Dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam mencari sumber
belajar, informasi, termasuk kegiatan siswa dalam mencari makna yang lebih dalam, yang mengharuskan mereka berbuat
sesuatu dengan melakukan kegiatan intelektual (diskusi kelompok dan diskusi kelas), agar ia menghayati pencapaian
pemahamannya tentang materi pembelajaran.

1.5.5 Hasil Belajar

Hasil belajar yang dimaksudkan di sini adalah segala yang diperoleh peserta didik selama berlangsungnya proses
pembelajaran, baik yang dilakukan melalui interaksi antara guru dengan peserta didik, maupun antara sesama peserta
didik, baik dalam bentuk process maupun dalam bentuk product (nilai). Menurut Hasan (dalam Sjamsuddin dan Suwirta,
Edt., 2003:309). “hasil belajar adalah tingkat perubahan kualitas individu peserta didik”. Data yang dikumpulkan
dari hasil belajar disini adalah nilai yang di peroleh siswa dari hasil pretest dan juga nilai yang diperoleh dari
postest baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol.

1.5.6  Respon Siswa

Respon siswa yang dimaksud adalah bagai mana tanggapan, pandangan maupun emosi siswa selama proses pembelajaran
berlangsung sehingga membuat pembelajaran itu berarti bagi siswa, dan hasil dari pembelajaran tersebut melekat kuat
dalam ingatan siswa. Seperti yang dikemukakan Goleman (1995), LeDoux (1993), MacLean (1990) (dalam DePorter, et al,
2000:22) tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak itu kurang dari yang dibutuhkan untuk “merekatkan” pelajaran
dalam ingatan. Untuk mengetahui bagaimana tanggapan, pandangan maupun emosi siswa terhadap pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL), pada kelas eksperimen diberikan angket yang dijawab oleh siswa-siswa dikelas eksperimen
tersebut.

1.6   Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui seberapa besar perbedaan antara kemampuan pemahaman konsep siswa yang belajar dengan pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL), bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional.
2. Mengetahui seberapa besar perbedaan antara kemampuan inkuiri siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL), bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional.
3. Mengetahui seberapa besar perbedaan secara keseluruhan (kemampuan pemahaman konsep dan inkuiri) siswa yang
belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional.
4. Memperoleh gambaran respon siswa dan guru terhadap pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan pendekatan
Contextual Teaching and Learning (CTL)

1.7   Manfaat Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada pelaksanaaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan kreativitas
belajar siswa. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memberi sumbangan untuk peningkatan kualitas proses
belajar mengajar dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Artinya hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi praktisi
pendidikan di lapangan seperti kepala madrasah, guru-guru mata pelajaran Bahasa Inggris, dan Kantor Departemen
Agama terutama bagian Madrasah dan Pendidikan Agama Islam (Mapendais) sebagai pihak pembuat kebijakan dalam sektor
pendidikan. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

Upaya dan kegiatan dalam meningkatkan kemampuan bagi guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang bertanggung jawab
sebagai pendidik, khususnya kemampuan dalam mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan berbagai pendekatan
pembelajaran.

Bagi siswa dengan pendekatan ini, diharapkan dapat memperoleh pengalaman baru dalam mempelajari Bahasa Inggris,
dalam upaya meningkatkan prestasi belajar mereka.

Bagi Kepala Madrasah atau pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan diharapkan hasil penelitian ini dapat
dijadikan masukan dalam menentukan kebijakan tentang pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk mata pelajaran
Bahasa Inggris diberbagai jenjang pendidikan umumnya, MTs khususnya.

Bagi peneliti bidang sejenis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu dasar dan masukan dalam
mengembangkan penelitian selanjutnya.

BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1 Pengertian Contextual Teaching and Learning

Kata contextual berasal dari bahasa Inggris, maksudnya mengikuti konteks atau dalam konteks. Secara umum contextual
mengandung arti: Sesuatu yang berkenaan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks;
Sesuatu yang membawa maksud, makna dan kepentingan. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan menerapkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari,
dengan cara melibatkan tujuh komponen utama yang menjadi karakteristik pendekatan Contextual Teaching and Learning
(CTL). (Corebima, et al, 2002:5).

Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar,
dan mereka akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. Menurut Mulyasa (2005:103)
“Pembelajaran konstektual mendorong peserta didik memahami hakekat, makna, dan manfaat belajar, sehingga
memungkinkan mereka rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar”.

Adapun hasil yang diharapkan melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menurut  Poedjiadi (1995:98)
adalah “untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang
dipelajarinya dengan mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari”.

2.2  Karakteristik Contextual Teaching and Learning (CTL)

Menurut Corebima, et al, (2002:5) Pendekatan Contextual Teaching and Learning memiliki tujuh komponen utama, yaitu
(1) kontrukstivisme (constructivism), (2) menemukan (inquiry), (3) bertanya (questioning), (4) masyarakat belajar
(learning community), (5) pemodelan (modelling). (6) refleksi (reflection), dan (7) penilaian autentik
(authentic assesment). Suatu kelas dikatakan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), jika
menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.

2.2.1  Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan perpikir pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), bahwa pengetahuan
dibangun manusia sedikit demi sedikit, hasiInya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong
-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.
Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa memecahkan masalah, menemukan hal-hal yang berguna bagi dirinya, dan
bergelut dengan gagasan-gagasan. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus
mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori kontruktivis bahwa siswa harus menemukan
dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan dapat menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima pengetahuan’. Dalam
proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembela-
jaran.

2.2.2   Menemukan (Inquiry)

Dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan sebagai hasil menemukan sendiri bukan hasil mengingat
seperangkat fakta, (guru harus berusaha selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan untuk
berbagai materi yang djajarkan.

Ada beberapa langkah dalam kegiatan  menemukan (inquiry) seperti yang dikemukakan Nurhadi (2003:13) berikut ini:
- merumuskan masalah
- mengamati dan melakukan observasi
- menganalisis dan meyajikan hasil tulisan, gambar, laporan bagan, tabel, dan karya lainnya
- mengkomunikasikannya atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.

2.2.3   Bertanya (Qoestioning)

Bertanya (questioning) merupakan strategi utama lainnya dalam pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam
sebuah pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir
siswa. Dalam pembelajaran yang berbasis inquiry, kegiatan bertanya merupakan bagian penting, bagi siswa untuk
menggali informasi, mengkonfirmasikan hal-hal yang sudah diketahui, serta mengarahkan perhatian pada hal-hal yang
belum diketahuinya.

2.2.4Komunitas Belajar (Learning Community)

Konsep komunitas belajar memberi peluang untuk memperoleh hasil pembelajaran melalui kerja sama dengan orang lain.
Pengembangan pembelajaran dalam kelompok dapat menumbuhkan suasana memelihara disiplin diri, dan kesepakatan
berperilaku. Melalui kegiatan kelompok terjadi kerja sama antar siswa, juga dengan guru yang bersifat terbuka.
Menurut Hakim (2000:43) “belajar berkelompok dapat dijadikan arena persaingan sehat, dan dapat pula meningkatkan
motivasi belajar para anggota kelompok”.

Dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), guru melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok
belajar. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang anggotanya heterogen. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi
bentuknya, baik anggotanya maupun jumlahnya. Menurut Slavin (1995:4-5) “kelompok yang efektif terdiri dari empat
sampai enam orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen”.

2.2.5   Pemodelan (Modeling)
Komponen Contextual Teaching and Learning (CTL) yang kelima adalah pemodelan. Pembelajaran keterampilan atau
pengetahuan tertentu dapat menggunakan atau menghadirkan model yang bisa ditiru, contohnya bentuk teks asli
procedure yang bias didapat pada berbagai brosur obat, cara manual pengoperasian alat-alat tertentu, cara membuat
(resep) makanan serta teks lain yang banyak ditemukan di lingkungan masyarakat umum.

Dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), guru bukan satu-satunya model. Guru dapat merancang model
dengan melibatkan siswa. Siswa yang memiliki prestasi, bakat dan kemampuan dapat ditunjuk untuk menjadi model.
Model pun dapat didatangkan dari luar lingkungan sekolah.

2.2.6   Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan bagian penting dalam pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL).
Refleksi merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Refleksi adalah cara
berpikir tentang hal yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang hal-hal yang sudah dilakukan di masa
lalu untuk mengevaluasi atau introspeksi apakah selama mengikuti proses pembelajaran, siswa dapat mengikuti dengan
baik, aktif, dapat memahami materi pembelajaran, senang belajar, dan lain-lainnya.

Pengetahuan yang bermakna diperoleh melalui proses. Pengetahuan yang telah dimiliki siswa diperluas melalui konteks
pembelajaran sedikit demi sedikit. Guru membantu siswa dalam menghubung-hubungkan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya dengan pengetahuan baru. Dengan demikian siswa memperoleh sesuatu yang bermakna bagi dirinya tentang
apa yang baru dipelajarinya. Konsep inilah yang oleh Ausubel (1968) disebut meaningfull learning.

2.2.7   Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.
Gambaran dari perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami
proses pembelajaran dengan benar. Jika data yang diperoleh menggambarkan masalah siswa dalam belajar, maka guru
harus segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kendala belajar.

Data yang dikumpulkan melalui penilaian bukan untuk mencari infomasi tentang belajar siswa. Hal tersebut karena
penilaian menekankan proses pembelajaran maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang
dilakukan siswa saat pembelajaran. Kemajuan belajar diperoleh melalui proses pembelajaran, tidak hanya hasil.
Penilaian yang sebenarnya yaitu menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa.

2.3 Bahasa Lisan dan Tulis

Sebelum manusia menciptakan sistem tulis-menulis, manusia berkomunikasi atau berinteraksi secara lisan. Maka tidak
salah jika ada orang yang mengatakan bahwa language is primarily spoken; bahasa pada dasarnya adalah lisan. Akan
tetapi, kebutuhan berkomunikasi ternyata berkembang; manusia mulai berkomunikasi untuk melakukan ‘bisnis’ dan perlu
mencatat sebab untuk mengingat banyak hal menjadi tidak mudah. Orang mulai perlu mencatat barang apa saja yang
diperlukan dan berapa jumlahnya sehingga orang mulai memikirkan bagaimana cara ‘membantu ingatan’ mereka dengan
menciptakan sistem tanda-tanda.

Model tersebut digambarkan Hammond et al. (1992:5) sebagai berikut.

Diagram 4: Bahasa Lisan dan Tulis (Hammond et al. 1992:5)

Dapat disimpulkan bahwa mengajar bahasa Inggris berarti mengajarkan dua ragam bahasa: lisan dan tulis. Guru tidak
dapat berasumsi bahwa jika mereka telah mengajar bagaimana membentuk kalimat dan mengenalkan kosa kata serta
ucapannya maka otomatis siswa dapat menggunakannya dalam bahasa lisan dan tulis. Tabel di atas menunjukkan bahwa
kedua ragam bahasa tersebut digunakan dalam konteks yang berbeda. Ragam tulis menjadi relatif lebih sulit karena
pembaca tidak berada dalam konteks yang sama dengan penulisnya. Dengan demikian konteks tempat dilahirkannya teks
tersebut harus juga dimasukkan ke dalam teks. Oleh karenanya, gurupun perlu mengembangkan kemampuan dan kebiasaan
menulis agar guru memiliki pengalaman nyata yang bisa dibagikan (share)dengan siswa.

2.4 Struktur Teks dan Teks Procedure
Menurut pengertian umum, teks adalah tulisan yang sering dibaca. Akan tetapi, pengertian teks secara teknis
sebenarnya lebih dari itu. Tampaknya teks memang seakan-akan ‘terbuat’ dari kata-kata, tetapi sebenarnya teks
‘terbuat’ dari makna. Istilah teknisnya, teks bukanlah satuan kata melainkan satuan semantis atau semantic unit
(Halliday 1985a:10). Makna ini kemudian direalisasikan dalam kata, klausa atau kalimat. Misalnya, kata ‘kursi’
disepakati oleh orang Indonesia sebagai realisasi makna sebuah benda yang biasa diduduki orang. Entah bagaimana
sejarahnya sehingga benda tersebut direpresentasikan dengan kata ‘kursi’ dan bukan ‘meja’. Yang penting adalah
bahwa jika ada orang mengatakan ‘kursi’ maka benda itulah yang dibayangkan orang. Hubungan makna ‘kursi’ dan ucapan
atau bunyinya tidak jelas tetapi orang menyepakatinya sebab tanpa dibunyikan atau dituliskan maka makna tak
tersampaikan.
Dalam teks procedure, beberapa ciri khusus yang tampak adalah fungsi sosialnya yaitu untuk menggambarkan bagaimana
sesuatu di lakukan /disusun/dikerjakan melalui beberapa urutan tindakan/langkah.  Susunan isi teksnya adalah tujuan,
materi (tidak mutlak pada semua teks procedure), urutan langkah.  Sedangkan ciri khusus kebahasaannya adalah
terfokus pada kegiatan manusia secara umum, menggunakan bentuk simple present tense, sering berupa kalimat perintah
(imperative), Mengunakan nomor urut atau kata hubung seperti, kemudian, selanjutnya, terakhir, dan sejenisnya,
serta menggunakan utamanya pada proses penggunaan/penyusunan suatu barang/benda.

2.5 Efektivitas Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Bahasa inggris.
Hamidah (2006) dalam penelitian pembelajaran Bahasa Indonesia, menegaskan pendekatan kontekstual (Contextual
Teaching and Learning (CTL)) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran
didapatkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja
dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Dalam konteks itu, siswa bisa mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, apa status mereka, bagaimana mencapai
hasil belajar. Siswa menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya. Dengan begitu mereka akan
meposisikan sebagai orang yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.

Peneliti menduga bahwa apabila pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) diterapkan dalam pembelajaran
Bahasa Inggris terutama pada ketrampilan menulis (writing) teks procedure, maka pembelajaran akan lebih efektif.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar antara siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning, dengan siswa yang melakukan pembelajaran dengan
pendekatan konvensional yang biasa dilakukan di MTs Negeri Wonorejo Kabupaten Pasuruan.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen, dengan dua variabel yaitu variabel bebas
(independent variable)  dan variable terikat (dependent variable ). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
pembelajaran Bahasa Inggris tentang menulis teks procedure baik dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning,
maupun dengan menggunakan pendekatan konvensional. Sedangkan varibel terikat adalah hasil belajar siswa yang
mencakup penguasaan konsep, dan inkuiri.

Tabel 3.1. Desain Penelitian

O = pre tes dan post tes
X = Perlakuan mengajar dengan     pendekatan Contextual Teaching
and Learning

A adalah kelas eksperimen, dan B adalah kelas kontrol, diambil dengan menggunakan teknik cluster sampling.
Kedua kelompok memperoleh pretes dan postes, dan hanya kelompok eksperimen yang menerima perlakuan.

Alur pelaksanaan penelitian tersebut dapat dilihat pada bagan berikut ini:

Gambar 3.1 Langkah-langkah penelitian
3.2  Lokasi dan Subjek Penelitian

3.2.1    Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negri Wonorejo Kabupaten Pasuruan, pada kelas VII B sebagai kelas eksperimen,
dan kelas VII A sebagai kelas kontrol.   Proses pembelajaran Bahasa Inggris menulis teks procedure dilakukan oleh
guru Bahasa Inggris  yang mengajar di MTs Negri Wonorejo, sedangkan peneliti bertindak sebagai observer.

3.2.2    Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTs N Wonorejo, yang teridiri dari lima kelas dengan jumlah
siswa seluruhnya 141, yang rinciannya sebagai berikut yaitu; kelas VII A = 30 siswa, kelas VII B = 30 siswas, kelas
VII C = 29 siswa, kelas VII D = 27 siswa dan Kelas VII E = 25.

3.2.3    Sampel
Pengklasifikasian kelas VII MTs N Wonorejo menggunakan kriteria yang menunjukkan perlakuan yang seimbang terhadap
prestasi siswa dan keadaan siswa, karena disekolah ini tidak ada kelas unggulan, sehingga sampel yang diambil
sebanyak dua kelas dengan menggunakan teknik cluster sampling.

Jumlah anggota sampel yang diambil dari populasi adalah 60 siswa terdiri dari   dua kelas yaitu kelas kontrol
sebanyak 30 siswa dan kelas eksperimen sebanyak 30 siswa.

3.2.4    Variabel Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini difokuskan pada dua variabel, yaitu:
Pendekatan Contextual Teaching and learning sebagai variabel bebas.
Hasil belajar siswa yang meliputi penguasaan konsep dan inkuiri sebagai variabel terikat.

3.4   Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan empat macam instrumen, yaitu soal tes hasil belajar, format
observasi selama proses pembelajaran, serta wawancara dan kuesioner pandangan guru dan siswa terhadap pembelajaran
dengan pendekatan Contextual Teaching and learning (CTL) yang diberikan.

3.5  Analisis Data Penelitian
Untuk mengetahui efektifitas pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran Bahasa Inggris
pada kompetensi dasar menulis teks procedure, dilakukan analisis kuantitatif melalui statistik uji-t, dengan teknik
analisis Paired Sample t Test dengan menggunakan SPSS versi 11.

Uji-t dilakukan dengan membandingkan hasil tes (pretes dan postes) antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.
Berdasarkan hasil pengukuran melalui statistik uji-t ini, kemudian dapat diketahui perbedaan rata-rata hasil tes
antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol yang memperlihatkan efektivitas pendekatan Contextual Teaching and
Learning    (CTL) dalam pembelajaran Bahasa Inggris, pada kompetensi dasar menulis teks procedure.

Sedangkan analisis terhadap data yang diperoleh dari hasil belajar dalam arti proses yang dilakukan berdasarkan
authentic assessment  atau penilaian performance, dilakukan secara terus menerus sepanjang proses pembelajaran
berlangsung, mulai pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir, dengan menggunakan lembar penilaian proses (lembar
observasi).

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Penelitian
Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab I bahwa penelitian ini bertujuan untuk menelaah apakah pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa MTs Negri Wonorejo Kabupaten Pasuruan
dalam pembelajaran Bahasa Inggris menulis teks procedure, bila dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan
menggunakan pendekatan konvensional, serta sikap dan pandangan siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan.
Berikut diuraikan hasil penelitian dan pembahasannya.

Secara keseluruhan hasil perhitungan uji perbedaan rata-rata postes pemahaman konsep, kemampuan  inkuiri serta
kemampuan siswa secara keseluruhan, disajikan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.1
Uji Perbedaan Rata-Rata Postes Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol
Aspek    Kel. Eksperimen    Kel. Kontrol            Kesim-
pulan
se    se2        sk    sk2
Pemahaman
Konsep    4,270    0,486    0,236    3.400    0,559    0,312    6,444    1,672    Berbeda scr
Signifikan pada p = 0,05
Kemampuan Inkuiri    3,100    0,486    0,236    2,200    0,582    0,339    6,522    1,672    Berbeda scr
Signifikan pada p = 0,05
Keseluruhan    7,400    0,759    0,576    5,630    0,850    0,723    8,509    1,672    Berbeda scr
Signifikan pada p = 0,05

Pembahasan

Pemahaman Konsep dan Kemampuan Inkuiri
Dari hasil tes secara keseluruhan (gabungan hasil postes penguasaan konsep dan inkuiri) dapat dilihat bahwa, nilai
pretes terendah kelas kontrol 2.0 nilai tertinggi 6,0 rata-rata 3,70, sedangkan nilai postes terendah pada kelas
kontrol adalah 4,0 nilai tertinggi 70 dan rata-rata adalah 5,63. berarti pada kelas kontrol dimana dilaksanakan
proses pembelajaran dengan pendekatan konvensional yang dilakukan oleh guru selama ini, terdapat peningkatan nilai
rata-ratanya sebesar 1,97.

Sedangkan pada kelas eksperimen nilai pretes terendah yang diperoleh siswa adalah 2.0 nilai tertinggi 60 rata-rata
3,57, namun terjadi peningkatan perolehan nilai hasil belajar yang lebih baik yaitu dengan nilai postes terendah
6.5 tertinggi 9,0 rata-rata 7,40, terdapat peningkatan nilai rata-rata sebesar 2,83.

Hasil pembahasan di atas diuji melalui uji hipotesis statistik menggunakan uji-t pada taraf signifikansi 0,05.
Dari uji hipotesis 1, 2, dan 3 yaitu perbedaan rata-rata kemampuan pemahaman konsep dan  kemampuan inkuiri kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol maupun rata-rata kemampuan siswa secara keseluruhan ditemukan perbedaan yang
signifikan antara kemampuan siswa dalam pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri, siswa yang mengikuti pembelajaran
melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), dengan kemampuan siswa yang belajar dengan pendekatan
konvensional.

Bila dibandingkan antara perolehan nilai hasil belajar siswa pada kelas kontrol dengan nilai hasil belajar yang
diperoleh pada kelas eksperimen, maka terjadi peningkatan perolehan nilai hasil belajar pada kelas kontrol sebesar
1,97, sedangkan pada kelas eksperimen terjadi peningkatan sebesar 2,83.  Padahal nilai rata-rata pretes kelas
eksperimen lebih rendah sedikit (3,57), pada kelas kontrol lebih tinggi sedikit (3,70). Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa peningkatan nilai rata-rata postes kelas eksperimen lebih besar dari pada kelas kontrol, adalah
dikarenakan pengaruh dari pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang digunakan.  Dapat dikatakan
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah efektif dilakukan dalam proses belajar mengajar menulis
teks procedure.

Selain temuan tersebut, terdapat fakta lain yang menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman konsep dan inkuiri siswa
yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), lebih baik dari siswa yang belajar dengan
pendekatan konvensional. Nilai postes secara keseluruhan pada kelompok eksperimen, tertinggi 9,0 terendah, 6,5 rata-
rata 7,40, sedangkan siswa yang memperoleh nilai  7,0 sebanyak 25 orang (83,3%). Sedangkan nilai secara keseluruhan
hasil postes pada kelas kontrol, terendah 4,0 , tertinggi 7.0 , rata-rata, siswa yang memperoleh nilai  7,0 tiga
orang  (10%).  Dengan demikian maka secara klasikal, ketuntasan belajar siswa pada kelas eksperimen mencapai 83,3%,
sedangkan kelas kontrol 10%.

Dari temuan di atas terbukti bahwa kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri siswa berkembang lebih baik pada
siswa yang mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris dengan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL),
dibandingkan dengan yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan konvensional.

Interpretasi ini berarti bahwa tiap siswa akan menempati peringkat yang hampir sama baik pada kemampuan pemahaman
konsep dan kemampuan inkuiri. Jika seseorang memperoleh peringkat yang tinggi pada tes pemahaman konsep kemungkinan
juga akan menempati peringkat yang tinggi pada tes kemampuan inkuiri, demikian juga sebaliknya.

BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1   Kesimpulan
Setelah peneliti memaparkan beberapa kondisi dan proses pembelajaran, serta dari beberapa temuan yang diperoleh
selama penelitian ini dilaksanakan, mengenai Efektivitas Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam
pembelajaran menulis teks procedure, maka peneliti menarik beberapa kesimpulan.  Beberapa kesimpulan yang ditarik
dari penelitian ini adalah :

Terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan penguasaan konsep siswa yang belajar dengan pendekatan
Contextual Teaching and Learnig (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional, yang dapat dilihat dari
hasil perhitungan perbedaan rata-rata dengan menggunakan uji-t, yang menunjukkkan bahwa kemampuan penguasaan konsep
siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik bila dibandingkan dengan
siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan inkuiri siswa yang belajar dengan pendekatan Contextual Teaching
and Lerning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional, yang dapat dilihat dari hasil perhitungan
perbedaan rata-rata dengan menggunakan uji-t, yang menunjukkan bahwa kemampuan inkuiri siswa yang belajar dengan
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan
pendekatan konvensional.

Terdapat perbedaan yang signifikan secara keseluruhan (kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri) siswa yang
belajar dengan pendekatan Contextual Teaching anf Lerning (CTL) bila dibandingkan dengan pendekatan konvensional.
Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan perbedaan rata-rata dengan menggunakan uji-t, yang hasilnya menunjukkan
bahwa kemampuan penguasaan konsep dan inkuiri siswa (gabungan keduanya) yang belajar dengan pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL), lebih baik dari kemampuan siswa yang belajar secara konvensional.

Respon siswa dan guru positif terhadap pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam proses pembelajaran
Bahasa Inggris, hal ini dapat dilihat dari hasil angket, ternyata pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL),
diminati siswa dengan baik (100%). Guru dan siswa pada umumnya sangat senang dan bergairah selama proses
pembelajaran berlangsung. Dengan demikian pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL),  dapat dijadikan salah
satu alternatif pendekatan yang cocok digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris tentang menulis teks procedure
khususnya, dan pembelajaran bahasa di MTs umumnya.

Dapat disimpulkan juga bahwa tanggapan siswa yang beragam seperti dikemukakan di atas, adalah bersifat positif-
konstruktif. Ungkapan perasaan senang seperti itu dikarenakan selain dari sistem belajarnya yang baru mereka alami,
juga tidak terlepas dari motivasi dan pujian serta bimbingan yang diberikan oleh guru, atau oleh teman-teman mereka,
sehingga menimbulkan rasa bangga atas pujian dan bimbingan yang diberikan gurunya tersebut, dan bangga karena dapat
mengungkapkan kemampuannya, baik dalam bentuk bertanya, menjawab, menanggapi, ataupun menjadi moderator.  Artinya
siswa merasa puas dengan cara belajar seperti ini, karena beberapa potensi yang ada pada diri mereka selama ini
dapat dimunculkan, hingga mereka menjadi senang belajar Bahasa Inggris.

Guru mempunyai pandangan positif terhadap pembelajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL), guru berpendapat bahwa pembelajaran ini berpeluang untuk diterapkan pada kompetensi dasar lain dalam
rumpun bahasa. Namun menurut guru dalam pelaksanaannya diperlukan persiapan yang matang terutama dalam merancang
persiapan pembelajaran dan bahan ajar, dan keheterogenan kemampuan anggota kelompok, sehingga dalam setiap kelompok
terdapat siswa yang dapat membantu siswa lain. Oleh sebab itu proses pembelajaran Bahasa Inggris sudah saatnya
diarahkan juga pada penekanan proses pembelajarannya, disamping mementingkan mencapai hasil sebagai product,
sehingga siswa tidak merasa jenuh belajar sejarah, belajar Bahasa Inggris menjadi menyenangkan. Dengan juga
mementingkan proses, siswa akan menjadi terlatih dan terbiasa dengan beberapa kemampuan yang dilatihkan dan
dibiasakan selama berlangsungnya proses pembelajaran tersebut. Proses tersebut akan menghalau rasa bosan dan jenuh
yang selama ini dirasakan oleh sebagian besar siswa sebagai akibat dari proses belajar mengajar satu arah dengan
pendekatan konvensional.

5.2   Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan sebagaimana yang telah diuraikan, maka dapat dikemukakan beberapa rekomendasi dalam
pelaksanaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL),  sebagai berikut:

Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), supaya dapat dilaksanakan secara efektif, maka :
Sebelum melaksanakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), guru terlebih dahulu membuat perencanaan
yang tertuang dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran perlu
dideskripsikan secara jelas langkah-langkah yang harus dilakukan oleh guru dan siswa, agar proses pembelajaran
dapat berlangsung sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia.

Dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), harus disesuaikan
dengan rencana yang telah disiapkan, dan memfungsikan alat dan sumber belajar seoptimal mungkin.

Pembelajaran sebaiknya  dilaksanakan secara kelompok, diskusi kelompok dilaksanakan di perpustakaan atau di rumah,
(bila di rumah, dilakukan secara bergiliran). Hal ini untuk memungkinkan siswa untuk dapat menghemat waktu, siswa
secara leluasa dapat mencari berbagai sumber belajar dan lebih kreatif dalam menyempurnakan laporan diskusi kelompok
mereka.

Apabila diskusi kelompok dilakukan di rumah, maka orang tua ikut berperan dalam bentuk meningkatkan perhatian dan
pengawasan terhadap anak-anaknya, dengan menandatangani semacam “absensi” diskusi kelompok.

Untuk memperluas temuan penelitian, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan topik dan metode yang sejenis pada
jenjang MTs.  Hal ini dimaksudkan untuk memberikan sentuhan dan pengalaman yang lebih luas kepada guru-guru Bahasa
Inggris, tentang pendekatan pembelajaran yang dapat merangsang aktivitas dan kreativitas siswa sehingga kualitas
proses dan hasil pembelajaran dapat lebih meningkat lagi di masa-masa yang akan datang.

Disadari bahwa temuan dari penelitian ini masih belum dapat memberikan kontribusi akademis yang signifikan bagi
fungsionalisasi mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai suatu mata pelajaran di MTs, oleh karena itu adanya penelitian
lanjutan berkenaan dengan eksperimen dan implimentasi pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), akan sangat
mendukung terwujudnya upaya fungsionalisasi pendidikan Bahasa Inggris

Untuk peneliti lebih lanjut, disarankan menelaah hubungan kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan inkuiri dengan
kemampuan siswa dalam komunitas belajar (learning community), keaktifan dalam diskusi, serta kemampuan dalam
bertanya (questioning), atau kemampuan lain yang merupakan kriteria dari pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL).

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S.  1992. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta; Bumi Aksara.
Arikunto, S.  1996. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Dahar, R.W.,  1989.   Teori-Teori Belajar, Jakarta, Erlangga
Depdiknas.  2003b.  Kurikulum 2004 SMA. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran,
Jakarta DePorter, B. et al.  2000.  Quantum Teaching, Bandung, Kaifa
Eggins, S. 1994. An Introduction to Systemic Functional Linguistics. London : Pinter     Publishers.
Furqon.  2001.  “Evaluasi Belajar di Sekolah”, Mimbar pendidikan, 3/XX2001, 47-54.
Hakim, T.   2000.  Belajar Secara Efektif, Jakarta, Puspa Swara
Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotic. London: Edward Arnold
Halliday, M.A.K. 1985a/1994. An Introduction to Functional Grammar. London:     Edward Arnold.
Halliday, M. A.K. 1985b Spoken and Written Language. Geelong: Deakin University Press.
Hamalik, O.  1993.  Strategi Belajar Mengajar,  Bandung; Mandar Maju.
Hamidah.  2006.  Pendekatan Kontekstual.  Makalah Perkuliahan. Universitas Negeri Malang.  Tidak diterbitkan.
Hasan, S.H., (1996), Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta, Depdikbud, P2TA
Hasan, S.H.,  2003, “Pandangan Dasar Mengenai Kurikulum Pendidikan Bahasa”, Lingua, (9), V, 1-25.
Lestari, A.  L.  2003.  “English Classroom Culture Reformation:  How Can It done?”  TEFLIN Journal.  X.
1 August 2003.
Mulyasa, E,.  2005.  Menjadi Guru Profesional, Bandung, Ramaja Rosda Karya
Sayuti, S. A.  2001.  Menuju Pengajaran Sastra yang Ideal.  Makalah seminar tidak diterbitkan.  Malang.
Fakultas Sastra Universitas Negri Malang.
Slavin.  1994.  The Cycle of Learning.  Cambridge. Cambridge University Press.
Sudjana, H.D.  2000.   Strategi Pembelajaran, Bandung, Falah Production.
Sudjana, N.  1989.  Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung; Sinar Baru.
Sudjana, N.  1992.  Metoda Statistika. Bandung; Tarsito.
Sudjana, N. 1995.  Penilaian Hasil dan Proses Belajar Mengajar. Bandung; Sinar Baru.
Wells, B. 1987. Apprenticeship in Literacy. Dalam Interchange 18,1 / 2:109-123.
Wiriaatmadja, R.,  2002.   Pendidikan  di Indonesia, Bandung, Historia Utama Press.

About these ads

About widayantoku

a teacher of English in East Java Indonesia
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s